Biaya Masuk Pondok Pesantren Lirboyo 2022

ADVERTISEMENT
X CLOSE
X CLOSE
Advertisements

Anda sedang mencari informasi seputar Pondok Pesantren Lirboyo? Jika iya Anda datang ke tempat yang tepat. Kami telah mengumpulkan berbagai data mengenai Ponpes Lirboyo. Semoga bermanfaat

Sekilas Pesantren Lirboyo

Jika pada umumnya nama pesantren menggunakan nama yang berbahasa arab, maka tidak dengan pesantren yang satu ini. Nama Lirboyo sebagai nama pesantren diambil dari nama desa tempat berdirinya pesantren ini. Tepatnya desa ini terletak di di barat Sungai Brantas, di lembah gunung Willis, Kota Kediri.

Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo erat sekali hubungannya dengan awal mula KH. Abdul Karim menetap di Desa Lirboyo sekitar tahun 1910 M. Perpindahan KH. Abdul Karim ke Desa Lirboyo atas dorongan dari mertuanya sendiri yaitu Kyai Sholeh yang pada waktu itu menjadi seorang da’i. Beliau berharap dengan menetapnya KH. Abdul Karim di Lirboyo, maka syiar Islam akan tersebar lebih luas.

Tiga puluh lima hari setelah menempati wilayah tersebut, KH. Abdul Karim mendirikan surau mungil nan sederhana untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta. Kemudian singkat cerita datanglah santri pertama yang mengaji kepada beliau bernama Umar yang berasal dari Madiun. Tahun demi tahun, keberadaan Pondok Pesantren Lirboyo semakin dikenal oleh masyarakat luas dan semakin banyaklah santri yang berdatangan mengikuti santri-santri sebelumnya untuk bertholabul ilmi.

Biografi Pendiri

KH. Abdul Karim lahir tahun 1856 M di desa Diyangan, Kawedanan, Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, dari pasangan Kiai Abdur Rahim dan Nyai Salamah. Manab adalah nama kecil beliau dan merupakan putra ketiga dari empat bersaudara. Saat usia 14 tahun, mulailah beliau melanglang buana dalam menimba ilmu agama dan saat itu beliau berangkat bersama sang kakak (Kiai Aliman).

KH. Abdul Karim menikah dengan Siti Khodijah Binti KH. Sholeh, yang kemudian dikenal dengan nama Nyai Dlomroh. Dua tahun kemudian KH. Abdul karim bersama istri tercinta hijrah ke tempat baru, di sebuah desa yang bernama Lirboyo, tahun 1910 M. Disinilah titik awal tumbuhnya Pondok Pesantren Lirboyo.

Secara garis besar KH. Abdul karim adalah sosok yang sederhana dan bersahaja. Beliau gemar melakukan riyadlah; mengolah jiwa atau tirakat, sehingga seakan hari-hari beliau hanya berisi pengajian dan tirakat.

Sosok KH. Abdul Karim adalah sosok yang sangat istiqomah dan berdisiplin dalam beribadah, bahkan dalam segala kondisi apapun dan keadaan bagaimanapun, hal ini terbukti tatkala beliau menderita sakit, beliau masih saja istiqomah untuk memberikan pengajian dan memimpin sholat berjamaah, meski harus dipapah oleh para santri. Akhirnya, pada tahun 1954, tepatnya hari senin tanggal 21 Ramadhan 1374 H, KH. Abdul Karim berpulang ke rahmatullah, beliau dimakamkan di belakang masjid Lirboyo.

Kurikulum

Untuk kurikulumnya sendiri, pesantren yang masih bercorak salafiyah ini tidak berbeda dengan pesantren salafiyah lainnya. Sebagai pesantren salafiyah, tentu pembelajaran kitab kuning menjadi nyawa dan ruh bagi Lirboyo. Kitab-kitab dari tingkat dasar hingga tingkat atas dari berbagai fan ilmu akan dikaji sesuai dengan pemahaman dan kemampuan para santri. Dari mulai Jurumiyah, Aqidatul Awam, Arbain Nawawi, Taqrib, I’lal, Amsilah Tashrifiyah, Jauharul Maknun, Fathul Qarib, dsb semuanya insya Allah akan santri kaji.

Adapun metode pembelajaran kitab kuningnya menggunakan metode:

1. Classical (madrasah/ sekolah) diterapkan sebagai pembelajaran wajib yang disesuai dengan kemampuan masing-masing santri dalam menyerap dan memahami keilmuan yang diberikan. Bersifat wajib bagi santri-santri dengan mata pelajaran yang telah dibakukan sebagai tingkatan-tingakatan pembelajaran. Di mulai pada pertengahan bulan Syawal sampai pada akhir bulan Rajab di setiap tahunnya. Dengan masa libur 2 kali dalam 1 tahun yakni 10 hari pada bulan Maulid dan 30 hari di bulan Ramadlan.

2. Tradisional (Pengajian Kitab) berupa pengajian bandongan, sorogan, diskusi/ musyawarah pendalaman masalah teks keagamaan dan bahtsul masail dengan kupas problema keagamanan terkini.

Kehidupan Santri

Adapun untuk kehidupan santrinya sendiri sama seperti kebanyakan pesantren pada umumnya. Para santri setiap harinya selain melaksanakan kajian kitab, mereka juga mengikuti pembelajaran jenjang formal sesuai dengan usianya. Kemudian sebagai ciri khas pesantren tradisional di tanah jawa, para santri pun dituntut untuk mampu menghafalkan berbagai matan kitab-kitab kuning seperti matan jurumiyah, matan imrithi, matan aqidatul awam, dan lainnya.

Biaya Pendidikan

Biaya Iuran Syahriyah Ponpes Lirboyo TA 2022/2023

Komponen Biaya Besaran Biaya
Gedung Santri Baru Rp25.000
Uang Pangkal Santri Baru Rp10.000
Buku Tiga Tokoh Rp12.000
Buku Tata Tertib Santri 1.800
Biaya Administrasi Rp2.500 per tahun
Pengembangan Sarana Rp6.000 per tahun
Pendidikan dan Penerangan Rp1.500 per tahun
Rekening Listrik Rp7.500 per bulan
SPP Rp13.000 per bulan
Pramuka Rp350 per bulan
Kesehatan Rp1.500 per bulan
Pengairan Rp2.250 per bulan
Kebersihan Rp2.250 per bulan
Dana Pembangunan Rp15.000 per bulan
Iuran Yayasan Rp500 per bulan
Pengembangan Pondok Cabang Rp1.000 per bulan
Akomodasi Rp1.500 per bulan
Jumlah Pembayaran Tiap Bulan Rp44.850

Biaya Iuran Non Syahriyah Ponpes Lirboyo TA 2022/2023

Komponen Biaya Besaran Biaya
Jam’iyah Pusat Rp16.000 per tahun
Jam’iyah Wilayah Rp20.000 per tahun
Jam’iyah Far’iyah Rp20.000 per tahun
Musyawarah HP Rp10.000 per tahun
HBD Daerah Rp20.000 per tahun
Safari Daerah Rp15.000 per tahun
Kas HP Rp10.000 per tahun
Kas Blok Rp5.000 per tahun
Kas Kamar Rp25.000 per tahun
Kas Pembangunan Rp10.000 per tahun
Sosial Rp5.000 per tahun
Kalender Rp22.000 per tahun

Biaya Madrasah Ponpes Lirboyo TA 2022/2023

Komponen Biaya Besaran Biaya
Pendaftaran Ujian Masuk Rp15.000
Pangkal Siswa Baru Rp15.000
Sumbangan Pembangunan Siswa Baru Rp30.000
Syariyah Ibtidaiyah : Rp57.700
Tsanawiyah : Rp58.900
Aliyah : Rp59.400
I’dadiyah : Rp55.800

Untuk biaya pendidikan, Pondok Pesantren Lirboyo tidak mematok biaya yang mahal. Bahkan, bisa dibilang uang sekolah di pondok pesantren ini sangat terjangkau. Jika ditotal, biaya masuknya hanya sekitar Rp. 150.000, adapun biaya bulanannya hanya Rp. 44.850. Murah sekali bukan? Oh ya tapi itu tidak termasuk biaya makan ya… Untuk makan santri mesti menyiapkan bahan makanan masing-masing.

Alumni Terkenal

Sangat banyak sekali tokoh dan ulama besar yang lahir dari rahim Lirboyo. Salah satunya adalah Ketua Besar PBNU saat ini yaitu Prof Dr KH Said Aqil Siradj. Ada juga pakar Qur’an paling ternama di Indonesia yaitu Dr KH Akhsin Sakho Muhammad. Dan tentu masih banyak lagi tokoh lainnya.

Begitulah sekelumit profil tentang Pondok Pesantren Lirboyo. Semoga bermanfaat ya!

Baca juga:

Daftar 500+ Pesantren Terbaik di Indonesia Lengkap

Tinggalkan komentar