Biaya Masuk Pondok Pesantren Tebuireng 2022

ADVERTISEMENT
X CLOSE
X CLOSE
Advertisements

Anda sedang mencari informasi seputar Pondok Pesantren Tebuireng? Jika iya Anda datang ke tempat yang tepat. Kami telah menyajikan informasi terkini mengenai Ponpes Tebuireng. Semoga bermanfaat ya!

Sekilas Pesantren Tebuireng

Setiap warga NU tentu sudah sangat tidak asing dengan nama pesantren ini. Tentu saja, karena pesantren yang terletak di Jombang ini didirikan langsung oleh sang Muassis NU yaitu Hadrotussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Pesantren ini didirikan oleh beliau pada tanggal 26 Rabiul Awal 1317 H (bertepatan dengan tanggal 3 Agustus 1899 M.) Kala itu beliau mendirikan sebuah bangunan kecil yang terbuat dari anyaman bambu berukuran 6 X 8 meter.

Seiring berjalannya waktu, bermula dari 28 orang santri pada tahun 1899, kemudian menjadi 200 orang pada tahun 1910, dan 10 tahun berikutnya melonjak menjadi 2000-an orang, sebagian di antaranya berasal dari Malaysia dan Singapura. Pembangunan dan perluasan pondok pun ditingkatkan, termasuk peningkatan kegiatan pendidikan untuk menguasai kitab kuning. Singkat cerita, Tebuireng pun terus berkembang hingga saat ini.

Oh ya nama Tebuireng sendiri diambil dari nama dusun tempat pondok ini berada. Tepatnya terletak di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Letaknya berada di tepi jalan raya Jombang-Kediri, sekitar 8 km di selatan pusat kota Jombang.

Biografi Pendiri

KH Hasyim Asy’ari lahir pada Selasa Kliwon, 24 Zulkaidah 1287 Hijriah, bertepatan dengaan tanggal 14 Februari 1871 Masehi, di pesantren Gedang, Tambakrejo, Kabupaten Jombang. Dia merupakan anak ketiga dari 11 bersaudara, putra dari pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah.

Kiai Hasyim dalam mendidik santrinya dikenal sabar dan telaten. Beliau memusatkan perhatiannya pada usaha mendidik santri sampai sempurna menyelesaikan pelajarannya, untuk kemudian mendirikan pesantren di daerahnya masing-masing. Beliau juga ikut aktif membantu pendirian pesantren-pesantren yang didirikan oleh murid-muridnya, seperti Pesantren Lasem (Rembang, Jawa Tengah), Darul Ulum (Peterongan, Jombang), Mambaul Ma’arif (Denanyar, Jombang), Lirboyo (Kediri), Salafiyah-Syafi’iyah (Asembagus, Situbondo), Nurul Jadid (Paiton Probolinggo), dan lain sebagainya.

Selain itu berkat ilmu dan pengaruhnya yang sangat besar, para kiai di tanah Jawa mempersembahkan gelar ”Hadratusy Syeikh” yang artinya ”Tuan Guru Besar” kepada Kiai Hasyim. Pada 25 Juli 1947 KH Hasyim Asy’ari wafat. Jenazahnya dikebumikan di Pesantren Tebuireng Jombang.

Kurikulum Pesantren

Untuk kurikulumnya sendiri, pesantren yang masih bercorak salafiyah an nahdliyah ini tidak berbeda dengan pesantren salafiyah lainnya. Sebagai pesantren salafiyah, tentu pembelajaran kitab kuning menjadi nyawa dan ruh bagi Tebuireng. Kitab-kitab dari tingkat dasar hingga tingkat atas dari berbagai fan ilmu akan dikaji sesuai dengan pemahaman dan kemampuan para santri. Dari mulai Jurumiyah, Aqidatul Awam, Arbain Nawawi, Taqrib, I’lal, Amsilah Tashrifiyah, Jauharul Maknun, dsb semuanya insya Allah akan dikaji.

Selain itu santri juga dapat bersekolah di pendidikan formal yang tersedia. seperti Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY, kini IKAHA).

Kehidupan Santri

Sebagai pesantren salafiyah yang telah memiliki unit pendidikan formal, tentu keseharian santri bisa dikatakan cukup sibuk. Para santri harus sudah mulai beraktivitas mengikuti kegiatan pesantren sejak shubuh hari. Kemudian dilanjut dengan bersekolah bagi santri yang memang mengikuti pendidikan formal. Secara umum kegiatannya tidak jauh berbeda dengan pesantren pada umumnya.

Kemudian santri pun nantinya akan dapat mengikuti berbagai program esktrakulikuler. Program tersebut antara lain:

  • Komputerisasi kitab kuning (CD Program)
  • Pelatihan Keorganisasian dan Kepemimpinan
  • Pelatihan Dakwah
  • Pers/Jurnalistik
  • Olahraga
  • Pramuka
  • Seni bela diri
  • Musik
  • Forum kajian ilmiah santri
  • Dll

Alumni Terkenal

Sangat banyak sekali tokoh dan ulama besar Nusantara yang pernah nyantri di Tebuireng. Bahkan diantara mereka ada yang pernah menjadi orang nomer wahid di negeri ini. Mereka antara lain adalah:

  • KH Abdurrahman Wahid (Presiden ke 4 Indonesia)
  • KH Sholahudin Wahid (Ulama Kharismatik)
  • KH Ma’ruf Amin (Wapres Indonesia dan Mantan Ketua MUI serta PBNU)

Biaya Sekolah Pondok Pesantren Tebuireng

Pondok Putra Tebuireng
Keterangan SMP/MTs SMA/MA SMK
Infaq Sarana Sekolah Rp3.000.000 3.500.000 400.000
MOS Sekolah Rp50.000 50.000 50.000
Seragam Rp750.000 750.000 750.000
Administrasi Sekolah Rp50.000 50.000 75.000
SPP Rp370.000 400.000 130.000
Pondok Putri Tebuireng
Keterangan SMP/MTs SMA/MA SMK
Infaq Sarana Sekolah Rp3.000.000 3.500.000 400.000
MOS Sekolah Rp50.000 50.000 50.000
Seragam 747.000 747.000 747.000
Administrasi Sekolah 50.000 50.000 75.000
SPP 370.000 400.000 130.000
Komponen Biaya Pondok Biaya (Rp)
Putra  
Infaq Sarana Pondok & Sekolah 5.000.000
Seragam Pondok 160.000
Sarung 70.000
Tas & Sandal 20.000
MOS Pondok 50.000
Sprei & Sarung Bantal 160.000
Buku Panduan, Buku Izin, Buku Majmu 50.000
Buku Rapor Santri 50.000
SPP 980.000
Putri  
Infaq Sarana Pondok & Sekolah 5.000.000
Seragam Pondok 140.000
Kerudung 50.000
MOS Pondok 50.000
Sprei & Sarung Bantal 160.000
Buku Panduan, Buku Izin, Buku Majmu 85.000
Buku Rapor Santri 50.000
SPP 980.000
Putri Al Mahfudz  
Infaq Sarana Pondok 5.000.000
Sewa Almari 75.000
Kasur & Bantal 260.000
Baju & Jilbab Almamater 200.000
SPP Bulanan 990.000
Putri Al Masruriyah  
Infaq Sarana Pondok 1.730.000
Registrasi Pondok 200.000
Kegiatan 1 Tahun & Qurban 450.000
Kasur & Bantal 500.000
Baju & Jilbab Almamater 340.000
Mukena 130.000
Al Quran Pojok 80.000
Sewa Lemari 3 tahun 300.000
SPP 770.000

Begitulah sekelumit informasi profil Pondok Pesantren Tebuireng. Semoga bermanfaat ya!

Baca juga:

Daftar 500+ Pesantren Terbaik di Indonesia Lengkap

Tinggalkan komentar