[Kumpulan] Hadits tentang Keutamaan Menuntut Ilmu (Arab, Latin, Arti)

Islam adalah agama yang sangat mendorong umatnya untuk belajar atau menuntut ilmu dimanapun dan kapanpun. Tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu. Ada banyak dalil baik berupa ayat Al Quran hingga hadis tentang menuntut ilmu.

Dorongan untuk menuntut ilmu bahkan merupakan hal pertama yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam di dalam Quran surat Al-Alaq. Selain Quran surat Al-Alaq, sebenarnya masih ada banyak lagi ayat Al Quran dan hadist tentang keutamaan menuntut ilmu.

Kumpulan Ayat Al Quran dan Hadis Tentang Menuntut Ilmu

Berbagai dalil baik dari Al Quran dan Hadist menunjukkan bahwa Allah memuji setiap hamba-hamba-Nya yang berilmu dan beramal sholeh.

Bahkan, dengan semangat seorang hamba dalam menuntut ilmu dapat mengantarkan orang itu memiliki kedudukan lebih tinggi dari yang lain. Berikut keutamaan menuntut ilmu:

1. Menuntut Ilmu Merupakan Kewajiban

Menuntut Ilmu Merupakan Kewajiban

Dalam Islam, menuntut ilmu agama bukan sekedar perkara yang sangat dianjurkan namun juga diwajibkan atas setiap muslim. Hukum memahami ilmu agama adalah fardhu ‘ain, yakni wajib atas setiap muslim sehingga setiap muslim mengetahui apa-apa dalam hidupnya yang halal dan haram.

Kewajiban menuntut ilmu sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan disampaikan oleh sahabat Anas bin Malik radiallahu anhu dalam HR. Ibnu Majah nomor 224 dan, dishahihkan oleh Syeikh Al Albani di dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir nomor 3913

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim”

Sebagai seorang muslim, hal yang harus dilakukan ketika mendengar perintah baik dari Al Quran maupun hadist adalah mentaatinya. Adab seorang muslim ketika mendengar suatu perintah dan larangan adalah “sami’na wa atha’na” (kami mendengar dan kami taat).

Baca: 5 Hadits tentang Tanggung Jawab

2. Muslim Wajib Belajar dan Mengajarkan Ilmu

Muslim Wajib Belajar dan Mengajarkan Ilmu

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam tidak hanya mendorong kaum muslimin untuk menuntut ilmu namun juga mengajarkan ilmu serta memiliki adab terhadap siapa saja yang berilmu (‘alim).

Adab terhadap orang yang berilmu terutama yang mengajarkan kaum muslimin ilmu diwajibkan untuk berbagai jenis ilmu baik ilmu agama maupun ilmu dunia.

تَعَلَّمُوْاوَعَلِّمُوْاوَتَوَاضَعُوْالِمُعَلِّمِيْكُمْ وَلَيَلَوْا لِمُعَلِّمِيْكُمْ ( رَواهُ الطَّبْرَانِيْ)

“Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu. (HR Tabrani).

Kewajiban menuntut ilmu agama adalah fardhu ‘ain. Sementara kewajiban menuntut ilmu duniawi seperti ilmu-ilmu alat (fisika, matematika, biologi, kimia, geografi dan sebagainya) adalah fardhu kifayah bagi kaum muslimin.

Artinya selama sudah ada sebagian kaum muslimin yang mempelajarinya, maka gugurlah kewajiban tersebut bagi muslim lainnya.

3. Dimudahkan Jalan Menuju ke Surga

Dimudahkan Jalan Menuju ke Surga

Keutamaan menuntut ilmu adalah dipermudah jalan menuju ke surga. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan disampaikan oleh Abu Hurairah radiallahu anhu melalui hadis tentang menuntut ilmu berikut:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Ketika seorang muslim berusaha dengan segala sumber daya yang mereka miliki untuk mencari ilmu, maka Allah pun akan memudahkan orang tersebut dalam mengerjakan amalan sholeh dan menjauhi larangannya.

Hal ini dikarenakan tatkala seseorang belajar, maka orang tersebut akan mengetahui amalan shaleh apa yang harus dikerjakan ataupun hal-hal yang harus dijauhi. Tatkala seseorang berusaha taat kepada Allah dengan mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, maka Allah akan memudahkan jalannya ke surga.

Makna “menempuh jalan untuk mencari ilmu” sendiri memiliki dua buah makna. Pertama adalah makna sesungguhnya yakni orang yang demi mendapatkan ilmu ia berjalan atau berkendara untuk menghadiri majelis ilmu baik formal dan nonformal.

Makna kedua yakni makna kiasan yaitu setiap usaha yang dilakukan untuk mendapat ilmu baik dengan cara membaca kitab-kitab ulama, menonton video ceramah, hingga metode lain untuk memahami ilmu.

Baca: 5 Hadits Tentang Senyuman

4. Memperoleh Pahala Layaknya Haji Sempurna

Memperoleh Pahala Layaknya Haji Sempurna

Allah sangat mendorong hamba-hamba-Nya untuk belajar ilmu dan mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain. Bahkan, Allah menawarkan pahala kebaikan bagi orang tersebut seperti halnya pahala orang yang berhaji secara sempurna.

Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam di dalam hadist riwayat Ath Thabrani di bawah:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Siapa yang bersegera pergi ke masjid hanya untuk tujuan belajar kebaikan atau mengajarkannya maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang haji secara sempurna.” (Shahih: HR. Ath-Thabrani no. 7473 dalam Al-Mu’jam Al-Kabir).

Dalam hadist di atas kita belajar bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam mendorong umatnya untuk bersegera pergi ke masjid demi belajar kebaikan (ilmu agama) dan mengajarkannya ke orang lain.

5. Allah Menginginkan Kebaikan untuk Semua Muslim

Allah Menginginkan Kebaikan untuk Hamba Tersebut

Di dalam hadis tentang menuntut ilmu lainnya yang diriwayatkan oleh Muawiyyah bin Abi Sufyan radiallahu anhu, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam pernah bersabda tentang kebaikan dan menuntut ilmu agama.

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim No. 1037).

Dalam hadist tersebut bisa dipahami bahwa tatkala seseorang semakin bersemangat untuk belajar dan memahami ilmu agama, maka hal tersebut merupakan tanda bahwa Allah menghendaki orang tersebut dengan seluruh kebaikan.

Sehingga jika Anda saat ini merasa sangat ingin belajar lebih banyak tentang ilmu agama, maka itu artinya Allah sedang menghendaki Anda untuk memperoleh seluruh kebaikan di dunia dan di akhirat.

Baca: 10 Hadits tentang Pemimpin

6. Diangkat Derajatnya

Diangkat Derajatnya

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman dan diberi ilmu di antara kalian beberapa derajat.” (QS Al Mujadilah ayat 11)

Dalam ayat di atas, Allah sangat menyanjung kedudukan para ulama yang berilmu dan merupakan pewaris para nabi atas keleuasan ilmu mereka. Allah juga berjanji akan meninggikan derajat ahli ilmu (ulama) dengan derajat yang sangat banyak dalam hal pahala dan derajatnya di hadapan Allah.

Semakin tinggi derajat seseorang di hadapan Allah menunjukkan bahwa ridha Allah atas diri mereka sangat besar. Hal ini karena mereka beriman dan juga memiliki ilmu agama. Tentu saja syarat lainnya adalah orang tersebut atas ilmu yang dimilikinya digunakan untuk kebaikan dan diajarkan kepada orang lainnya.

7. Ilmu adalah Warisan dari Nabi dan Rasul

Ilmu adalah Warisan dari Nabi dan Rasul

Siapa yang tidak mau mendapatkan warisan dari Nabi dan Rasul utusan Allah yang sangat mulia? Kita sebagai hamba Allah dan umat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam tentu menginginkan untuk mendapat bagian dari warisan ilmu yang tidak akan pernah habis tersebut.

Oleh karena itu, semakin banyak ilmu agama yang kita pahami artinya semakin banyak bagian warisan yang kita ambil dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Ketika mendapat warisan tersebut, sesungguhnya kita sudah memperoleh bagian yang sangat banyak di akhirat kelak.

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sungguh para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu, maka barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Daud).

Baca: 9 Hadits Tentang Jodoh

8. Tanda Kemunafikan adalah Tidak Paham Agama

Tanda Kemunafikan adalah Tidak Paham Agama

خَصْلَتَانِ لَا تَجْتَمِعَانِ فِي مُنَافِقٍ، حُسْنُ سَمْتٍ، وَلَا فِقْهٌ فِي الدِّينِ

Artinya, “Dua perkara yang tidak akan berkumpul pada diri seorang munafik, yaitu banyak diam dan faqih dalam agama.” (Shahih: HR. At-Tirmidzi no. 2684)

Dari hadist di atas kita bisa melihat bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam mengabarkan ada dua hal yang tidak akan ada secara bersama-sama di dalam diri seorang yang munafik yakni kepahamannya akan ilmu agama dan juga lebih banyak diam jika tidak perlu.

Hal ini karena orang yang munafik tentu akan lebih banyak bicara daripada diam, tidak benar-benar memahami ilmu agama namun berusaha mendistorsi ilmu agama kepada orang awam.

9. Ilmu Adalah Ambisi yang Tidak Pernah Kenyang

Ilmu adalah Warisan dari Nabi dan Rasul

مَنْهُومَانِ لَا يَشْبَعَانِ: مَنْهُومٌ فِي عِلْمٍ لَا يَشْبَعُ، وَمَنْهُومٌ فِي دُنْيَا لَا يَشْبَعُ

“Dua ambisi yang tidak pernah kenyang, yaitu ambisi ilmu tidak akan kenyang dan ambisi dunia tidak akan kenyang.” (Shahih: HR. Al-Hakim no. 312)

Di dalam sebuah hadist, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam menyampaikan bahwa ada dua ambisi yang nilainya saling berseberangan, yaitu ambisi akan ilmu yang merupakan kebaikan yang tidak akan pernah kenyang dan ambisi akan dunia yakni berupa kerakusan yang merupakan suatu keburukan.

Berbagai ayat Al Quran hingga hadis tentang menuntut ilmu menunjukkan betapa tingginya posisi ilmu terutama ilmu agama di dalam Islam. Anda tidak cukup hanya beribadah mahdhoh saja tanpa mengetahui ilmunya karena beribadah tanpa ilmu akan membuat seseorang tersesat.

Tinggalkan komentar