(REVIEW) Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak

ADVERTISEMENT
X CLOSE
X CLOSE
Advertisements

Anda sedang mencari informasi terkini seputar Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak? Jika iya Anda datang ke tempat yang tepat. Kami telah menghimpun informasi yang mungkin dapat membantu anda untuk mengetahui lebih dalam tentang Ponpes Al Munawwir Krapyak. Semoga bermanfaat ya!

Sekilas Pesantren Al Munawwir

Pondok Pesantren Al Munawwir berdiri pada tahun 1911 masehi. Pendirinya adalah seorang ulama yang cukup masyhur dalam bidang Qur’an kala itu yaitu KH M. Munawwir. Kala itu pada tahun 1911, sepulang dari belajar di Mekkah selama 21 tahun, KH. Munawir yang tinggal di kampung Kauman, Yogyakarta (di belakang Masjid Agung alun-alun Yogyakarta) membuka pengajian di rumahnya.

Kian hari santri terus bertambah, dan rumah Kyai tak mampu lagi menampung. Maka dipindahkanlah tempat pengajian itu ke desa Krapyak Kulon. Beberapa bangunan pondok yang dibangun di tempat baru inilah yang kemudian dikenal sebagai kompleks Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak.

Pada awal berdirinya, pesantren ini menekankan pengajaran al-Qur’an, baik secara binnadhar degan membaca langsung, bilghoib, hafalan. Kemudian dari pelajaran bilghoib ini dilanjutkan dengan pelajaran qiraat sab’ah, tujuh macam bacaan al-Qur’an. Melengkapi pelajaran al-Qur’an, diberikan pula pelajaran berbagai kitab fiqh, tafsir, dan kitab-kitab agama lainnya. 

Biografi Pendiri

KH. M. Munawwir lahir di Kauman, Yogyakarta. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Abdullah Rosyad bin KH. Hasan Bashari dan Khadijah. Beliau bisa dikatakan merupakan pelopor pakar Qiro’at sab’ah pertama di Indonesia.

Dalam khidmahnya, KH Munawir berhasil membentuk kader bagi ahli-ahli Al-Qur’an di berbagai daerah. Mereka antara lain, KH Umar Magkuyudan Solo, KH Arwani Kudus, KH Umar Cirebon, KH Muntaha Wonosobo, KH Murtadlo Cirebon, KH Yusuf Agus Indramayu, KH Aminuddin Bumiayu, KH Zuhdi Kertosono, KH Abu Amar Kroya, KH Hasan Tholabi Kulonprogo, KH Dimyathi Bumiayu, KH Fathoni Brebes, KH Basyir Kauman Yogya, dsb. Setelah pulang dari Krapyak, umumnya mereka mendirikan pesantren tahfidhul Qur-an dan menjadi ahli-ahli dalam bidang Ulumul Qur’an.

Riwayat belajar KH Munawwir Krapyak dalam mendalami ilmu Alquran tidaklah main-main. Sebelum pergi ke Makkah, beliau terlebih dahulu belajar ke sejumlah ulama Nusantra pada tahun 1888. Adapun guru-gurunya di Nusantara ini sangatlah beragam. Mulai dari KH Abdullah Bantul, KH Kholil Bangkalan, KH Solih Darat Semarang, hingga KH Abdur Rahman Muntilan.

Selanjutnya, KH Munawwir Krapyak menimba ilmu di Makkah dan Madinah untuk mempelajari Alquran. Di Kota Madinah tepatnya, beliau berhasil menghafal 30 juz Alquran dengan qira’ah sab’ah (bacaan tujuh). Kesuksesan tersebut sekaligus menjadikan beliau tercatat sebagai ulama pertama Jawa yang berhasil mengusai qira’ah sab’ah. 

Kurikulum Pesantren

Pesantren Al Munawwir adalah lembaga pendidikan yang menerapkan sistem salaf dan hingga saat ini mampu bertahan dan terus berkembang dalam kiprahnya. Tak hanya mengkhususkan pendidikannya dalam bidang Al-Qur’an saja, Pondok Pesantren Tradisional ini juga mempelajari bidang lain, seperti kitab-kitab kuning (kutubussalaf assholih). Perkembangan tersebut kemudian disusul dengan penerapan sistem madrasah (klasikal).

Nantinya pengajian kitab akan diberikan dalam bentuk sorogan, bandungan, wetonan, muhadloroh/pembahasan kitab, dan lain-lain. Kemudian terdapat pelajaran ekstra dan ketrampilan yang diberikan antara lain latihan berorganisasi dan kepemimpinan, khitobah (latihan berpidato), praktek ibadah, memimpin tahlil, seni baca al-Qur’an, olah raga, bakti masyarakat dan kecakapan berbahasa Arab.

Kemudian hal unik dari pesantren ini ialah adalah bagaimana Al-Qur’an selalu dirayakan dengan semarak, seperti melalui pengajian talaqqi secara tahqiq setiap pagi bersama Mbah Najib, sorogan bacaan Al-Qur’an (binnazhar) di komplek masing-masing, dan juga setoran hafalan (bilhifzhi) di komplek-komplek tahfizh. Selain itu, setiap pekan juga ada simakan tartilan Al-Qur’an yang bisa diikuti tiap Sabtu Wage.

Oh ya saat ini selain mengelola pendidikan salaf, Pesantren Al Munawwir sudah sangat berkembang dan memfasilitasi santrinya dengan berbagai jenjang lembaga pendidikan formal dan informal mulai dari TK, Madrasah Diniyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Madrasatul Banat, Madrasatul Huffadz, hingga Ma’had Aly yang merupakan perguruan tinggi ilmu salaf berupa jenjang pendidikan klasikal teratas di Pondok Pesantren Al-Munawwir.

Untuk kurikulum pendidikan formalnya sendiri seperti MTs dan MA, pesantren ini menggunakan kurikulum yang telah dibuat oleh Kemenag. Adapun untuk kurikulum SMK nya menggunakan kurikulum yang telah ditetapkan oleh DIKNAS. Sedangkan untuk Ma’had Aly menggunakan kurikulum yang langsung dirancang oleh para pengurus pondok.

Kehidupan Santri

tren a

Sebagai pesantren salafiyah yang telah memiliki unit pendidikan formal, tentu keseharian santri bisa dikatakan cukup sibuk. Para santri harus sudah mulai beraktivitas mengikuti kegiatan pesantren sejak shubuh hari. Kegiatan santri dimulai pada waktu Subuh dengan melaksanakan kegiatan sholat berjamaah. Setelah itu para santri mengaji dengan sistem sorogan di asrama. Setelah mengaji secara sorogan di asrama, dilanjutkan dengan kegiatan Bandongan yang berlokasi di gedung pengajian.

Kemudian dilanjut dengan bersekolah bagi santri yang memang mengikuti pendidikan formal. Secara umum kegiatannya tidak jauh berbeda dengan pesantren pada umumnya. Yah Secara umum kegiatannya tidak jauh berbeda dengan pesantren pada umumnya.

Biaya Pendidikan

Dari informasi terakhir yang kami dapatkan, rincian biaya pendidikan Tahun pertama (daftar ulang) MTs adalah Rp2.000.000 (IPP), Rp5.800.000 (PPKP), dan Rp2.700.000 (Syahriyah 3 bulan). Sedangkan untuk tingkat MA, rincian biayanya adalah Rp2.000.000 (IPP), Rp6.300.000 (PPKP), dan Rp2.700.000 (syahriyah 3 bulan). 

Paket Penunjang Kegiatan Pendidikan (PPKP) terdiri dari uang pangkal, 4 stel seragam madrasah, seragam asrama, kitab pengajian, dana kesehatan, dan dana kesehatan santri. Sedangkan IPP adalah Infaq Pengembangan dan Pembangunan. Selanjutnya, biaya bulanan atau syahriyah baik untuk MTs maupun MA adalah Rp900.000, termasuk biaya madrasah, asrama, pengajian, makan 3 kali sehari dan cuci pakaian.

Begitulah sekelumit profil tentang Pondok Pesantren An Nur Bantul. Semoga bermanfaat ya!

Alamat lengkap pesantren: Jl. KH. Ali Maksum, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55002

Website resmi: https://www.almunawwir.com/

Baca juga:

Daftar 500+ Pesantren Terbaik di Indonesia Lengkap

(REVIEW) 9 Pesantren di Yogyakarta Paling Bagus (2021)

(REVIEW) 9 Pesantren Terbaik di Bantul (2021)

Tinggalkan komentar