(REVIEW) Pondok Pesantren Temboro

Anda sedang mencari informasi seputar Pondok Pesantren Temboro? Jika iya Anda datang ke tempat yang tepat. Kami telah menghimpun berbagai data mengenai Ponpes Temboro. Semoga bermanfaat ya!

Sekilas Pesantren Temboro

Bagi kalangan Jamaah Tabligh tentu pesantren ini sudah sangat tidak asing. Yups, hal ini karena memang Pesantren yang memiliki nama asli Pesantren Al Fattah ini merupakan pesantren yang kental dengan organisasi islam asal India tersebut. Budaya dan kultur Jamaah Tabligh sangat terasa di pesantren ini. Aktivitas khuruj, makan satu nampan dan berbagai ciri khas dari Jamaah Tabligh sangatlah kental.

Mengenai pendirinya, Al Fattah Temboro didirikan oleh dua bersaudara, yakni Kiai Mahmud dan Kiai Ahmad Sodiq, yang dulunya juga berperan dalam pembentukan pengurus organisasi Islam Nahdlatul Ulama generasi pertama yang ada di Magetan. Awalnya, pesantren ini hanya memiliki 50 orang santri dan bangunannya pun menggunakan lahan bekas rumah kiai pendirinya. Namun dengan berbagai dinamika dan perkembangan yang cukup pesat, kini santrinya telah mencapai angka 22 ribu orang. Bahkan dari jumlah tersebut, sekitar 980 santri berasal dari luar negeri, yang kebanyakan dari negara-negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Brunei, dan Thailand.

Biografi Pendiri

KH. Mahmud adalah seorang ulama yang banyak menimba ilmu di beberapa pondok pesanten di pulau Jawa, di antaranya kepada hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Kemudian setelah selesai dari mondoknya beliau kembali ke kampung halamannya yaitu di Desa Temboro, lalu beliau mendirikan sebuah masjid, dan masjid tersebut di buat acara pengajian.

Sosok figur Kyai Mahmud sangatlah berpengaruh di kabupaten Magetan khususnya di desa Temboro, selain seorang ulama beliau juga dikenal sebagai pejuang dan politisi di tahun 80-an. Beliau juga pernah menjabat sebagai ketua Syuriah NU di tahun 1980-1984 serta aktif di dunia perpolitikan NU di tahun itu.

Pondok Pesantren yang beliau asuh, asal mulanya adalah sebuah pondok pesantren Thoriqoh al-Naqsyabandiyyah dengan kegiatan seperti halnya pesantren lainnya. Akan tetapi setelah NU bertekad melepaskan diri dari partai politik pada tahun 1984 di Muktamar Situbondo dan kembali pada Khittoh NU 1926, beliau menemukan sebuah inisiatif untuk merubah warna pesantren asuhannya menjadi pondok pembinaan Jama’ah Tabligh.

Hal ini karena beliau beranggapan bahwa pergerakan Jama’ah Tabligh sebenarnya adalah sebuah pergerakan islam yang sesuai dengan perjalanan agama Islam yang dimotori oleh Walisongo zaman dahulu dan sesuai dengan Khittoh NU yang melepaskan diri dari dunia politik.

Kurikulum Pesantren

Untuk kurikulum dan sistem pembelajarannya, pesantren Temboro sejatinya masih menganut menganut sistem pengajaran seperti layaknya pesantren di kalangan Nahdhiyin lainnya di pulau Jawa. Hanya saja, pesantren Al-Fatah Temboro memadukan antara konsep Tabligh (dakwah) dengan konsep pesantren. Hal inilah yang membedakannya dengan pesantren lainnya.

Pelajaran-pelajaran yang diajarkan antara lain:

  • Hadits
  • Musthalah al-Hadits (istilah-istilah hadis)
  • Fiqh (hukum Islam)
  • Ushul Fiqh (pokok-pokok hukum Islam)
  • Faraid (ilmu pembagian harta waris)
  • Tajwid, ‘Ulum al-Qur’an (ilmu-ilmu al-Qur’an)
  • Tafsir (tafsir al-Qur’an)
  • Tauhid (keyakinan)
  • Tarikh (sejarah Islam)
  • Qasas (kisah -kisah)
  • Nahwu dan Sharf
  • Lugah al-‘Arabiyyah (bahasa Arab)

Selain mempelajari ilmu keislaman, para santri pun nantinya dapat mengikuti unit pendidikan formal dan non formal yang berada di Temboro. Unit tersebut antara lain:

  • Taman kanak – kanak/Roudhotul Atf
  • Madrasah Ibtidaiyah
  • Madrasah Tsanawiyah
  • Madrasah Aliyah
  • Madrasah Diniyah
  • Madrasah Tahfidzul Qur‟an
  • Daurotul Hadist

Kehidupan Santri

Sebagai seorang santri di sebuah pesantren, tentu kegiatan para santri dipenuhi dengan banyak kegiatan dan studi agama (diniyyah). Kegiatannya pun hampir sama dengan pesantren pada umumnya. Namun ada beberapa kegiatan yang berbeda dengan pesantren lainnya. Misalnya setiap hari Minggu, santri diwajibkan untuk melakukan intiqoli (khuruj) sehari dalam sepekan. Khuruj sendiri adalah meluangkan waktu untuk secara total berdakwah yang dilakukan dari rumah ke rumah dan dari masjid ke masjid.

Hal unik lainnya adalah dalam hal berpakaian sehari-hari, seperti mengenakan jubah bagi laki-laki dan burka atau penutup wajah bagi perempuan. Kemudian karena Jamaah Tabligh juga mengajarkan untuk sering interaksi dengan warga, maka kehidupan di Pesantren Temboro dan lingkungan sekitarnya sudah seperti menyatu, di mana dengan keberadaan pesantren ini juga sangat membantu aspek ekonomi warga sekitar.

Begitulah sekelumit informasi profil Pondok Pesantren Temboro. Semoga bermanfaat ya!

Baca juga:

Daftar 500+ Pesantren Terbaik di Indonesia Lengkap

Tinggalkan komentar