7 Bait Alfiyah Tentang Kehidupan Santri

Di dalam dunia pesantren, kitab alfiyah tentu sangatlah masyhur dan fenomenal. Bagaimana tidak, kitab ini merupakan bahan ajar utama ilmu nahwu dan sharaf tingkat menengah ke atas. Maka tak heran kitab ini biasanya hanya akan dikaji oleh para santri senior yang telah menamatkan kitab-kitab dasar seperti jurumiyah, ilal, imrithi, dan sebagainya.

Nah selain membahas ilmu nahwu dan sharaf, ternyata kitab yang berbentuk nadzom-nadzom ini juga menyimpan banyak sekali makna tersirat di dalam bait-baitnya yang sangat berguna bagi kehidupan, khususnya bagi santri. Karena itulah di artikel ini kami telah mengumpulkan beberapa bait alfiyah tentang kehidupan santri.

Semoga bermanfaat ya!

Oh ya bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai alfiyah bisa klik link ini

Tentang Kehidupan

Poin pertama yang akan dibahas oleh kami adalah mengenai bait alfiyah tentang kehidupan. Maksudnya adalah bait-bait ini nantinya akan memberi spirit dan motivasi yang sangat relate bagi kehidupan Anda di masa sekarang. Diantaranya adalah:

Teguh Pada Pendirian Dalam Setiap Keadaan

Dalam bait 58 Ibnu Malik menulis:

لِلرَّفْعِ وَالنَّصْبِ وَجَرِّ نَا صَلَحْ # كَاعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا اْلمِنَحْ

Artinya:

Dlamir -na, baik untuk dhamir rafa’, nashab, jar tetap memakai lafadz -na

Seperti ungkapan اعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا اْلمِنَاح (kita telah memperoleh anugerah yang banyak)

Makna tersurat dari bait ini adalah

Bait ini adalah penjelasan bahwa نا (bentuk muttashil dari نحن) digunakan sebagai dhamir muttashil rafa’, nashab, jar, dengan tetap menggunakan redaksi kata –na. Maknanya نا tanpa perubahan dan berpegang teguh atas dirinya. Lain halnya dengan dhamir orang pertama misalnya, untuk muttashil rafa’-nya berupa تُ, sedangkan dalam nashab dan jar-nya menggunakan ي.

Nah makna hikmah dari bait ini adalah jadilah seperti dhamir muttashil -na yang teguh pendirian dan pemahaman meski dalam keadaan apa pun. Meskipun dhomir lain senantiasa berubah bentuk sesuai keadannya, dia terap pada pendiriannya dan tidak terpengaruh oleh perubahan dan pengaruh aliran-aliran lain.

Pelajaran ini tentu sangat berharga, mengingat di zaman now ini banyak sekali orang yang tidak berprinsip dan tak tau arah. Mereka menjalani hidupnya seolah kehidupan itu hanya senda gurau belaka. Sehingga pada akhirnya mereka memilih untuk hidup bebas tanpa aturan agama dan membebek terhadap kebudayaan barat yang tentu hampir semuanya bersebrangan dengan islam.

Pantang Menyerah

Berikutnya dalam bait 302 muallif menulis:

لاَ أَقْعُدُ الْجُبْنَ عَنِ الْهَيْجَاءِ#  وَلَوْ تَوَالَتْ زُمَرُ الأَعَدَاءِ

Artinya:

Tak akan aku berpangku tangan karena takut berperang,

meskipun pasukan musuh datang bertubi-tubi.

Bait yang satu ini merupakan bait terakhir yang ada di dalam bab maf’ul lah. Menerangkan bahwa mashdar atau kata kerja asal yang memenuhi syarat untuk menjadi maf’ul lah (sama waktu dan pelaku dengan fiil yang dijelaskan alasannya) bisa saja digunakan sebagai maf’ul lah dengan disertai alif lam.

Nah maknanya sudah sangat jelas. Bait ini bagaikan sebuah moto dalam berjuang meraih tujuan. Meskipun lelah Tetap teguh meski ujian dan cobaan menghadang. Tak akan mundur meski hancur, tak kan gentar meski harus terkapar. Meski lelah menerpa jiwa, tekad dan semangat tak boleh padam begitu saja.

Bersungguh-sungguhlah Dalam Kehidupan

Selanjutnya pada bait ke 289 tertulis:

وَقَدْ يَنُوْبُ عَنْهُ مَا عَلَيْهِ دَلّ#  كَجِدَّ كُلَّ الْجِدِّ وَافْرَحِ الْجَذَلْ

Artinya: “Terkadang, ungkapan yang menunjukkan makna mashdar juga bisa menggantikan mashdar sebagai maf’ul muthlaq.

Seperti,… (Bersungguhlah dengan segala kesungguhan dan berbahagialah dengan segala kebahagiaan).

Secara umum bait ini menjelaskan perluasan keterangan mengenai maf’ul muthlaq. Yang mana fungsinya dalam kalam adalah sebagai penguat, memperjelas jenis macam perbuatan, ataupun menjelaskan berapa kali perbuatan atau fi’il dikerjakan oleh fail.

Kemudian Ibnu Malik memberi contoh dari maf’ul muthlaq yang maknanya sudah sangat jelas, sebagaimana yang sudah tertera pada bagian terjemah. Maknanya adalah saat usaha kita dalam menggapai tujuan dibarengi kesungguhan yang maksimal. Tatkala berhasil, kesuksesan itu akan membuahkan rasa bahagia yang berlipat ganda.

Nah, dalam bahasa Indonesia, kutipan contoh bait di atas selaras dengan ungkapan: “Berakit-rakit dahulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Tentang Santri

Poin berikutnya adalah bait alfiyah tentang kehidupan santri yang merupakan seorang tholabul ilmi. Diantara bait alfiyah yang berkaitan dengan kehidupan santri saat ini adalah:

Senang Berbuat Baik

Dalam potongan bait 127 Ibnu malik menulis:

… # وَرَغْبَةٌ فِي الْخَيْر خَيْرٌ وَعَمَلْ بِرَ يَزِيْنُ

Artinya:

“Senang terhadap kebaikan adalah juga kebaikan. Perbuatan baik bisa menghiasi diri …”

Secara umum Kalimat dalam potongan bait ke 127 tersebut adalah contoh dari isim nakirah yang dapat dijadikan sebagai mubtada. Penyebabnya adalah karena nakirah tersebut beramal menashabkan kata sesudahnya.Sehingga kata fi al-khair, secara posisi tarkibnya dalam mahal nashab. Sedangkan kalimat kedua adalah contoh nakirah yang di-idhafahkan kepada nakirah lain sehingga ia bisa dibuat sebagai mubtada.

Nah makna tersirat dari bait di atas tadi seolah mengingatkan kita pada salah satu ungkapan dari Abu Darda, “Jadilah orang alim, atau pelajar, ataupun penggemar, ataupun pengikut. Jangan jadi yang ke lima, sehingga kau akan hancur.” Ditanyakan, “Apa yang kelima?” “Yaitu ahli bidah”.

Makna bait tersebut, senanglah terhadap kebaikan, karena itu juga sudah termasuk kebaikan. Lebih baik lagi jika meningkat ke perbuatan baik yang tentu akan menghiasi pelakunya dan akan menjadi sebuah amal sholeh yang dapat menghantarkan kepada surganya Allah.

Bicaralah Yang Bermanfaat dan Isitiqomahlah

Selanjutnya dalam bait kedelapan sang mushonnif menulis:

#كَلاَمُنَا لَفْظٌ مُفِيْدٌ كَاسْتَقِمْ

Artinya: “Kalam menurut kami (Ulama Nahwu) adalah ucapan yang memberi faidah, seperti ungkapan: Istikamahlah.

Bait ini menggambarkan definisi kalam atau ungkapan dalam kitab alfiyah ini dibuat sangat simpel namun memiliki makna yang sangat mendalam, yaitu cukup dengan perkataan mufid. Secara sederhana, mufid adalah keadaan ungkapan yang membuat pendengar memahami atau mengerti apa isi ungkapan itu.

Nah makna tersiratnya adalah sang muallif menyeru dan mengajak kita untuk berbicara tentang sesuatu yang memberi bermanfaat kepada pendengarnta. Selain itu pengambilan contoh dengan menggunakan kata istaqim seolah menjadi isyarat agar pembaca yang notabene kebanyakan merupakan para santri untuk tekun dan berdisiplin jika ingin mempelajari isi kitab ini.

Tentang Cinta

Poin selanjutnya adalah yang berkaitan dengan cinta. Ya bisa dikatakan banyak sekali lho bait di dalam alfiyah yang berkaitan dengan cinta. Bait-bait tersebut adalah:

Mengutamakan Yang Dekat

Pada bait 63, Ibnu Malik menulis:

وَفِي اخْتِيَارٍ لاَ يَجِيء الْمُنْفَصِلْ # إذَا تَأَتَّى أنْ يَجِيء الْمُتَّصِلْ

Artinya: Dalam kondisi normal tidak perlu mendatangkan dhamir munfashil.

Selama masih bisa menggunakan dhamir muttashil.

Secara umum bait ini memiliki makna tentang keutamaan menggunakan dhomir muttashil dibanding dengan dhomir muttashil. Pengaplikasian bait ini misalnya pada contoh ketika membuat maf’ul bih dari dhomir, maka pergunakanlah dhomir muttasil (tersambung dengan fi’il).

Nah dalam urusan cinta dan pernikahan bait di atas menyarankan kita untuk mencari pasangan dari lingkungan terdekat dan sepemikiran dengan kita. Seperti masih satu Sekolah, satu pesantren, satu kantor, satu desa, dan seterusnya. Alasannya jelas dan sederhana, yaitu karena kita lebih paham karakter mereka dari pergaulan setiap harinya dibandingkan dengan orang lain yang tinggalnya berjauhan.

Hubungan Long Distance Relationship (LDR)

Selanjutnya pada bait ke-266 tertulis:

وَعُلْقَةٌ حَاصِلَةٌ بِتَابِعِ #كَعُلْقَةٍ بِنَفْسِ الاِسْمِ الْوَاقِعِ

Artinya:

Persambungan syaghil dan isim sabiq yang terjadi melalui dhamir yang dibawa kalimat pengikut (tabi’) Mencukupi untuk menjadi penyambung.

Sebagaimana dhamir penyambung yang ada di isim syaghil sendiri.

Secara umum bait ini menjelaskan tentang istighal ‘amil an al-ma’mul. Bab ini termasuk bagian yang rumit untuk dijelaskan. Dalam bait ini dapat diterangkan dengan memakai contoh kata Zaidan dharabtu ghulamahu (si Zaid, saya pukul pembantunya).

Kata ganti hu merupakan isim dhamir yang harus ada untuk menghubungkan amil (dharabtu) dengan zaidan sebagai isim sabiq yang semula adalah ma’mul. Keberadaan kata ganti penghubung itu boleh juga menempat pada kata yang menjadi sifat dari kata yang jadi ma’mul fiil. Contoh Zaidan dharabtu ghulaman yadhribuhu (si Zaid, saya pukul pembantu yang memukul Zaid).

Begitu pula dalam lika liku cinta, terkadang keadaan mengharuskan perpisahan sementara waktu. Bagi yang masih sekedar ikatan pranikah, tentu lebih sering menggunakan alat lain untuk berkomunikasi. Kemudian makna bait di atas untuk hubungan jarak jauh (ldr) ini adalah, cinta yang tersambung dengan perantara (WA, FB, IG) sama bermaknanya dengan kehadiran sepasang kekasih. Karena, hadirnya perantara sama indahnya dengan hadirnya sang kekasih.

Penutup

Bagaimana, sudah jelas mengenai bait alfiyah tentang kehidupan santri? Semoga dengan membaca ini Anda akan semangat dalam melakoni kehidupan dunia yang melenakan ini ya!

Baca Juga:

25+ Kata-Kata Kangen Pondok Pesantren

20 Kata-Kata Rindu Anak di Pesantren

Tinggalkan komentar