Mengenal Irama Jiharkah: Pengertian, Sejarah & Tingkatannya

ADVERTISEMENT
X CLOSE
X CLOSE
Advertisements

Anda sedang mencari informasi seputar irama jiharkah? Jika iya, maka Anda sangat beruntung mampir di artikel ini. Disini kami telah mengulas tema yang Anda inginkan tersebut secara singkat, padat, dan jelas. Tanpa berlama-lama lagi, kuy baca penjelasan kami!

Pengertian Irama Jiharkah

Irama jiharkah adalah salah satu dari 7 irama membaca Al Qur’an yang sering digunakan di Indonesia. Jiharkah dikenal sebagai irama yang mendayu-dayu dan menimbulkan perasaan yang cukup mendalam. Oleh sebab itu, ia amat cocok digunakan saat membaca ayat yang menceritakan tentang rintihan, hari kiamat ataupun doa. Selain itu, irama ini sering juga dilantunkan pada saat takbiran hari raya ‘Idul Fitri maupun hari raya ‘Idul Adha.

Kemudian, suatu hal baru yang diciptakan tentu memiliki sifat dan kegunaan. Tak terkecuali dengan irama jiharkah. Ia juga memiliki sifat dan kegunaan tertentu yang sangat berarti dalam membaca Al Qur’an agar semakin nikmat didengar. Berikut ini sifat dan kegunaan irama jiharkah:

Sifat-sifat lagu Jiharkah :

  • Mempunyai sifat kesesuaian dengan tingkatan suara yang sederhana.
  • Mempunyai kelembutan yang berkesan.
  • Mempunyai gerak ringan dan cepat.

Kegunaan lagu Jiharkah :

  • Melembutkan suatu bacaan.
  • Memberi penyesuaian kepada ayat-ayat yang menunjukkan kesedihan dan kerinduan.
  • Membawa kepada lebih tartil kepada sebutan huruf kalimah dan ayat yang dibaca.
  • Meredakan ketegangan didalam suatu bacaan.

Sejarah Irama Jiharkah

Pelaguan Al Qur’an sejatinya telah dilakukan sejak masa Nabi SAW, bahkan beliau sendiri lah yang melagukan Qur’an dengan suaranya yang indah dan merdu. Suatu ketika Abdullah bin Mughaffal pernah mengilustrasikan suara Rasulullah dengan terperanjatnya unta yang ditunggangi Nabi ketika Nabi melantunkan surah Al Fath.

Tak ketinggalan, para sahabat yang mulia juga memiliki himmah yang besar untuk melagukan Al Qur’an. Sejarah mencatat banyak sahabat kibar yang berpredikat sebagai qari’, diantaranya adalah: Abdullah Ibnu Mas’ud dan Abu Musa Al Asy’ari.

Disusul berikutnya pada masa tabi’in, tercatat Umar bin Abdul Aziz dan Safir Al Lusi sebagai qari’ yang masyhur. Sedangkan pada masa tabi’ tabi’in masyhur dikenal sebagai qori adalah Abdullah bin Ali bin Abdillah Al Baghdadi dan Khalid bin Usman bin Abdurrahman.

Meskipun di masa awal Islam sudah tumbuh lagu-lagu Al Quran, namun perkembangannya tidak bisa dilacak dikarenakan tidak ada bukti kuat yang dapat diteliti secara lebih mendalam. Hal ini dimungkinkan karena pada saat itu belum ada alat perekam suara atau yang sejenisnya.

Karena itu transformasi seni baca Al Quran berlangsung secara sederhana dan turun temurun dari generasi ke generasi. Selain itu, sejarah pun tak mencatat perkembangannya pasca generasi tabi’ tabi’in.

Singkat cerita, barulah pada awal abad ke-20 masuk dua aliran utama lagu Qur’an masuk ke Indonesia. Kedua aliran tersebut ialah aliran Makkah dan Mesir. Untuk aliran Makkah dikenal lagu Banjakah, Hijaz, Mayya, Rakby, dan Dukkah. Adapun untuk aliran Mishri dikenal Bayyati, Hijaz, Shoba, Rost, Jiharkah, Sikah, dan Nahawand.

Sebenarnya irama jiharkah ini berasal dari wilayah Afrika pada umumnya. Hanya saja irama ini sempat dirubah oleh para pakar lagu Arab dan Mesir yang kemudian terkumpul dalam lagu-lagu Mesir.

Karena itu, sebagai irama yang merupakan aliran mishri, ia mulai berkembang di Indonesia sejak paruh abad 20. Hal ini seiring dengan gencarnya eksebisi qari’ Mesir ke Indonesia. Yang mana dengan hadirnya mereka menjadikan maraknya lagu model Mishri di tangah-tengah qori Indonesia.

Bahkan saking gencarnya, pada tahun 60-an pemerintah Mesir mensuplai sejumlah maestro qari’ ternama kala itu seperti Syeikh Abdul Basith Abdus Somad, Syeikh Musthofa Ismail, Syeikh Mahmud Kholil Al Hushori, dan Syeikh Abdul Qadir Abdul Azim.

Tingkatan Irama Jiharkah

Dalam praktik pengamalannya, ada dua tingkatan yang harus diperhatikan setiap qori sebelum menggunakan irama jiharkah dalam membaca Al Qur’an. Berikut tingkatannya:

Nawa

Nada ini sedikit dimulai lebih tinggi dari nada awal maqom, adapun untuk gerakan selanjutnya hampir sama dengan gerakan-gerakan suara dari nada awal maqom.

Jawab

Nada ini dimulai lebih tinggi dari nada nawa dengan gerakan-gerakan elepasi yang terkesan minor satu atau dua kali. Kemudian dilanjutkan dengan aksentuasi dalam nada tinggi dan diakhiri dengan nada bertangga turun bersama elepasi atau boleh juga secara turun bertangga murni dengan gerakan-gerakan wajar, indah dan sedap didengar.

Contoh Irama Jiharkah

Lantas, seperti apakah irama jiharkah yang baik dan benar sesuai kaidah? Dan bagaimanakah cara belajar irama ini secara otodidak? Berikut ini beberapa link youtube yang dapat Anda jadikan sebagai contoh dalam belajar irama jiharkah:

1. Contoh bacaan irama jiharkah oleh Ust Bilal Attaki

https://youtu.be/VimM-jnLKBg

2. Murottal juz 30 dengan irama jiharkah oleh Ust Muhammad Ikhwani

https://youtu.be/6zNKHj8oIpw

3. Contoh irama jiharkah oleh Syaikh Misyari Rasyid

https://youtu.be/p4NT3qOWDKk

4. Belajar irama jiharkah oleh Ust Takdir Feriza Hasan

https://youtu.be/dSy2MyDgKvk

5. Bacaan merdu irama jiharkah ole Syaikh Saad Uzwait

https://youtu.be/8DgtsxU5Ql8

Demikian informasi seputar irama jiharkah yang dapat kami sampaikan. Semoga dapat bermanfaat bagi Anda semua ya! Wallaahu A’lam.

Baca juga:

Mengenal Macam-macam Irama Al Quran yang Indah

Mengenal Irama Rost: Pengertian, Sejarah & Tingkatannya

Tinggalkan komentar