√ Aamiin Allahumma Aamiin: Tulisan Arab & Terjemahan

Aamiin Allahumma Aamiin – Aamiin allahumma aamiin ya mujibassailin memiliki arti “Ya Allah, kabulkanlah, Ya Allah, kabulkanlah, wahai Dzat yang Maha Mengabulkan permintaan orang-orang yang berdoa.” Inilah arti dari kalimat “Aamiin Allahumma aamiin yaa Mujiibas saailiin”.

Menurut para ulama, pengucapan kata “aamiin” dalam bahasa Arab memiliki makna “Ya Allah, kabulkanlah!”.

Dalam kitab At-Tamhîd 7/9, Imam Ibnu Abdilbarr menyatakan bahwa menurut ulama, kata “aamiin” memiliki makna “Ya Allah, kabulkanlah doa-doa kami”.

Berikut ini adalah penulisan kalimat tersebut dalam bahasa Arab:

آمينَ اللَّهُمَّ آمينَ يَا مُجِيبَ السَّائِلِينَ

aamiin allahumma aamiin ya mujibassailin artinya perkata

Sumber gambar: Berita 99.co

Berikut ini adalah penjelasan mengenai makna dan arti dari ucapan “Aamiin, Allahumma Aamiin, ya Mujibassailin” dalam bahasa Indonesia:

TULISAN ARABTEKS LATINARTINYA
آمينAamiinKabulkanlah ya Allah
اللّهُمَّAllahummaWahai Allah
آمينAaamienKabulkanlah yaa Allah
يَاyaaWahai
مُجِيبَMujiibaYang Maha Mengabulkan (Allah)
السَّائِلِينَsaailiinpermintaan orang-orang yang meminta/memohon/berdoa

Ya, benar. Ungkapan tersebut sering kita dengar setelah penutup doa atau ketika imam selesai membaca Surat Al-Fatihah dalam salat berjamaah.

Ketika seorang imam atau pembaca doa mengucapkan “Aamiin,” mereka mengundang jamaah atau pendengar untuk menyampaikan persetujuan mereka terhadap doa tersebut. Mereka juga mengharapkan agar Allah mengabulkan doa-doa yang telah diajukan.

Selanjutnya, ketika mereka mengucapkan “Allahumma Aamiin,” mereka menambahkan kata “Allahumma” sebelum “Aamiin.” Dalam hal ini, mereka meminta Allah secara langsung untuk mengabulkan doa-doa tersebut. Hal ini menunjukkan rasa rendah hati sebagai hamba yang memohon pertolongan dan harapan kepada Allah yang Maha Kuasa.

Terakhir, dengan menyebutkan “ya Mujibassailin,” mereka mengarahkan permohonan mereka kepada Allah sebagai Maha Pengabul. Dengan mengucapkan ini, mereka berharap agar Allah mengabulkan doa-doa mereka sesuai dengan kehendak-Nya.

Secara keseluruhan, ucapan “Aamiin, Allahumma Aamiin, ya Mujibassailin” mengekspresikan harapan dan keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan doa-doa yang baik, serta kepatuhan dan ketergantungan kita sebagai hamba kepada-Nya.

Waktu membaca kata Aamiin

Ada dua situasi di mana orang sering mengucapkan kata “Aamiin”.

Pertama, setelah selesai membaca Al-Fâtihah dalam salat. Ketika seseorang menjadi imam atau memimpin doa dalam salat berjamaah, mereka membaca Surat Al-Fâtihah, doa pembuka dalam salat. Setelah selesai membacanya, jamaah yang hadir merespons dengan mengucapkan “Aamiin” sebagai tanda persetujuan terhadap doa yang telah dibacakan oleh imam. Dalam momen ini, “Aamiin” menjadi ungkapan pengharapan bahwa doa yang telah dibacakan akan dikabulkan oleh Allah dengan berkah dan rahmat-Nya.

Situasi kedua adalah ketika seseorang mendengar doa yang diajukan oleh orang lain. Misalnya, dalam majelis pengajian, pertemuan keluarga, atau acara keagamaan lainnya, seseorang dapat menyampaikan doa untuk keselamatan, keberkahan, atau permohonan lainnya. Ketika doa tersebut selesai, orang-orang yang mendengarnya menyampaikan tanggapan dengan mengucapkan “Aamiin”. Hal ini menunjukkan bahwa mereka setuju dengan doa yang telah diajukan dan berharap agar doa tersebut dikabulkan oleh Allah.

Dalam kedua situasi tersebut, ucapan “Aamiin” menjadi simbol persetujuan, harapan, dan keyakinan umat Muslim bahwa Allah adalah Maha Mendengar, Maha Mengabulkan, dan Maha Penyayang yang akan mengabulkan doa-doa yang baik. Dengan mengucapkannya, kita mengungkapkan partisipasi spiritual dan ikatan yang kuat dengan doa yang diajukan oleh orang lain atau oleh diri sendiri.

Baca juga: Hasbunallah Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir.

Pendapat para ulama tentang cara melafalkan kata “aamiin”.

Dalam hal mengucapkan “Aamiin,” terdapat hal yang perlu diketahui mengenai panjang dan pendeknya pengucapan tersebut. Hal ini penting karena kesalahan dalam memberikan tasydid atau membaca dengan panjang atau pendek kata “Amin” dapat mengubah artinya.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai berbagai bentuk pengucapan “Amin” yang diperbolehkan dan dilarang menurut pandangan para ulama.

TULISAN ARABCARA MEMBACAPENDAPAT ULAMA
آمِّيْنmemanjang suara hamzah disertai tasydîd pada huruf mim = aammiindiperselisihkan kebolehannya dan membatalkan shalat
آمِنmemanjang suara hamzah disertai membuang huruf Ya’ = aamindiperselisihkan kebolehannya dan membatalkan shalat
آمِّنtanpa memanjangkan bacaan hamzah lalu tasydid pada huruf Mim serta menghapus huruf Ya’ = ammindisepakati membatalkan shalat
أَمِنtanpa memanjangkan huruf Hamzah, tanpa tasydid pada huruf Mim dan menghapus huruf Ya’disepakati membatalkan shalat
آمِيْنMemanjangkan huruf hamzah = Aamiindisepakati kebolehannya dan sesuai dengan sunnah
أَمِيْنTanpa memanjangkan huruf hamzah = amiindisepakati kebolehannya dan sesuai dengan sunnah
آمِيْنmemanjangkan hamzah ataupun tidak dengan disertai imâlah (aameen/ameen)dianggap sama dengan yang lafazh yang diperbolehkan

Faedah Aamiin Allahumma Aamiin Dalam Doa

Rasulullah SAW menjelaskan dalam firman Allah SWT:

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi permintaanmu. Sesungguhnya orang yang menyombongkan diri dengan meninggalkan ibadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (H.R At-Tarmizi: 2969)

Selanjutnya, Rasulullah SAW melanjutkan dalam haditsnya yang menyatakan:

«الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ»، وَقَرَأَ: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ٦٠ ﴾ [غافر: 60]( . رواه الترمذي (رقم: 2969) وقا: «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ»

“Doa adalah ibadah.” Dan beliau membaca, “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permohonanmu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dengan meninggalkan ibadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.'” (H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, doa merupakan langkah yang paling tepat untuk memohon bantuan kepada Allah SWT. Dengan keyakinan dan kesungguhan, doa memiliki banyak manfaat dan keutamaan.

Diantara banyak keutamaannya, terdapat tujuh keutamaan salat yang disebutkan oleh seorang ulama bernama Shaykh Kholid Al-Husainan dalam bukunya, Aktsaru min Alfi Da’wah f al-Yaumi wa al-Laili. Berikut ini beberapa di antaranya:

  1. Doa sebagai Mediator
    Dengan berdoa sebagai mediator, kita terhindar dari murka Allah SWT. Hal ini berarti bahwa orang yang berdoa kepada Allah mengakui bahwa dirinya tidak memiliki kekuatan dalam hidup ini. Hidupnya bergantung pada apa yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Saat berdoa, seseorang menyadari keterbatasan yang ada pada dirinya.
  2. Kekuatan Doa dan Alasan Menerima Pertolongan Allah SWT
    Doa adalah tanda pengabdian. Artinya, orang yang berdoa menyerahkan segala urusannya kepada Allah SWT. Doa juga menjadi bukti iman bagi mereka yang melakukannya.
  3. Doa sebagai Bentuk Ikatan dan Kepatuhan kepada Allah SWT
    Doa dapat menjadi mediator yang mencegah bencana sebelum terjadi atau sebagai perantara setelah bencana terjadi.
  4. Hasil Doa yang Dijamin oleh Allah SWT
    Setiap doa memiliki arti dan makna yang penting. Doa dapat dijawab dengan cepat sesuai dengan permintaan yang diajukan. Doa juga bisa menjadi tabungan untuk kehidupan akhirat. Atau mungkin doa menjadi sarana untuk mencegah kejahatan yang akan menimpa.
  5. Kekuatan Doa dalam Menerima Bantuan Allah SWT
    Doa menjadi tanda pengabdian. Orang yang berdoa menyerahkan segala urusannya kepada Allah SWT. Doa juga merupakan ungkapan iman bagi mereka yang berdoa.
  6. Doa sebagai Pencegah Bencana
    Doa dapat menjadi perantara yang mencegah bencana sebelum terjadi atau sebagai perantara setelah bencana terjadi.
  7. Doa sebagai Sumber Ketentraman Hati dan Pikiran
    Doa tidak pernah sia-sia. Doa juga dapat memberikan ketenangan hati dan pikiran yang sangat dibutuhkan, terutama dalam menghadapi masalah yang mempengaruhi emosi.

Demikianlah, doa merupakan bentuk ibadah yang sangat penting dalam menjalin hubungan dengan Allah SWT. Maka, lengkapilah doa yang kita panjatkan dengan menyebutkan kalimat “Aamiin Allahumma Aamiin”.

Waktu Mustajab untuk Berdoa dan Penjelasan

Setelah memahami makna dan arti “aamiin allahumma aamiin” dalam bahasa Indonesia, penting untuk mengetahui waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa. Berikut ini ada sebelas waktu yang dianggap mustajab untuk berdoa, yang Liputan6.com kutip dari berbagai sumber:

1. Saat Sujud

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Seorang hamba yang berada paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah berdoa pada saat itu.” (HR. Muslim, no. 482)

2. Saat Berpuasa dan Berbuka Puasa

“Allah membebaskan beberapa orang dari neraka setiap hari di bulan Ramadan, dan setiap muslim yang memanjatkan doa pasti akan dikabulkan.” (HR. Al-Bazaar)

Menurut penjelasan Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid 10:14, waktu-waktu mustajab untuk berdoa termasuk ketika seseorang menjalankan ibadah puasa, oleh karena itu, disarankan untuk memperbanyak doa pada waktu tersebut.

3. Sepertiga Malam Terakhir

Rasulullah SAW pernah bersabda tentang waktu mustajab untuk berdoa ini:

“Allah turun setiap malam ke langit dunia saat tersisa sepertiga malam terakhir. Ia berfirman, ‘Siapa yang memohon kepada-Ku agar Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku agar Aku berikan, dan siapa yang memohon ampun agar Aku ampuni.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Setelah Menjalankan Shalat Wajib

Dalam suatu riwayat, Abu Umamah ditanya kepada Rasulullah SAW mengenai doa yang paling didengar oleh Allah SWT. Beliau menjawab, “Di pertengahan malam yang akhir dan setiap selesai menunaikan shalat fardhu.” (HR. Tirmidzi)

5. Antara Adzan dan Iqamah

Rasulullah SAW bersabda, “Doa pada dua waktu tidak akan ditolak, atau kemungkinan ditolaknya sangat kecil. Waktu-waktu tersebut adalah saat adzan berkumandang dan saat terjadi peperangan di mana kedua belah pihak saling menyerang.” (HR. Abu Daud)

6. Minum Air Zam-Zam

“Manfaat air zam-zam bergantung pada niat orang yang meminumnya.” (HR. Ibnu Majah; hasan)

7. Hari Jumat

“Pada hari Jumat terdapat waktu tertentu. Jika seorang muslim berdoa pada waktu itu, pasti akan diberikan apa yang dimintanya.” Kemudian beliau mengisyaratkan dengan tangannya mengenai singkatnya waktu tersebut.” (HR. Bukhari, Muslim)

8. Saat Hujan Turun

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni meriwayatkan sabda Rasulullah:

“Carilah waktu-waktu mustajab untuk berdoa dalam tiga keadaan: saat bertemu dua pasukan, menjelang pelaksanaan shalat, dan saat hujan turun.”

Saat turun hujan, Rasulullah SAW juga pernah memanjatkan doa agar hujan yang bermanfaat turun.

“Allahumma shoyyiban naafi’aa” (Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat bagi kami)

9. Malam Lailatul Qadar

“Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, apa yang sebaiknya aku ucapkan jika aku menemukan malam Lailatul Qadar?’

Beliau menjawab, ‘Berdoalah dengan mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan mencintai sifat pemaaf, maka ampunilah aku.”‘ (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)

10. Saat Sahur

Dalam sebuah hadits, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita, Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, turun ke langit dunia saat tersisa sepertiga malam terakhir.

Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, pasti Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, pasti Aku beri. Barangsiapa yang memohon ampunan kepada-Ku, pasti Aku ampuni.'”

Menurut penjelasan Ibnu Hajar dalam hadits tersebut, “Doa dan istighfar pada saat sahur mudah dikabulkan.” (Fath Al-Bari ayat 32)

11. Hari Arafah

“Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah. Dan sebaik-baik ucapanku dan Nabi sebelumku adalah, ‘Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya milik segala kerajaan, bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.'” (HR. Tirmidzi)

Adab Berdoa dalam Islam

Setiap ibadah dalam agama Islam telah diatur dengan baik, termasuk dalam berdoa. Sebagai seorang muslim, kita tidak boleh sembarangan dalam berdoa. Terdapat beberapa adab berdoa yang harus diperhatikan. Selain memahami arti aamiin allahumma aamiin, ada beberapa adab lain yang perlu diketahui.

Berikut beberapa adab berdoa dalam agama Islam, selain memahami arti aamiin allahumma aamiin:

1. Memuji Allah SWT dengan banyak

Ketika berdoa, sangat penting untuk memuji Allah SWT dengan sifat-sifat-Nya yang mulia. Doa merupakan permohonan kita kepada Allah SWT, maka sangat baik jika kita memulainya dengan pujian kepada-Nya, seperti kalimat basmalah yang berarti “Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Dan diakhiri dengan arti aamiin allahumma aamiin, yang berarti “Ya Allah, kabulkanlah doaku.”

2. Berdoa pada waktu yang mustajab

Dalam agama Islam, terdapat waktu-waktu tertentu yang dianggap mustajab, yaitu waktu yang lebih diterima dalam berdoa. Beberapa waktu mustajab termasuk hari Arafah, bulan Ramadan, hari Jumat, sepertiga terakhir malam, dan waktu sahur. Rasulullah SAW telah menyebutkan waktu-waktu ini dalam hadisnya, bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap malam saat tersisa sepertiga terakhir. Allah berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan; siapa yang meminta, Aku beri; siapa yang memohon ampunan, pasti Aku ampuni.” (HR. Muslim)

3. Berdoa menghadap kiblat

Sama seperti dalam shalat, saat berdoa seorang muslim dianjurkan untuk menghadap kiblat (Ka’bah). Hal ini terdapat dalam hadis yang mengisahkan bahwa Nabi SAW saat berada di Padang Arafah, beliau menghadap kiblat dan terus berdoa hingga matahari terbenam. (HR. Muslim)

Demikianlah beberapa adab dalam berdoa dalam agama Islam. Dengan memahami dan mengamalkan adab-adab ini, kita dapat menghadirkan kekhusyukan dan keberkahan dalam setiap doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT.

Baca juga: Lirik Sholawat Nahdliyah: Tulisan Arab & Terjemahan.

Kesimpulan

Dalam artikel pesantrenterbaik.com kali ini, kita telah menjelajahi makna dan signifikansi dari ungkapan “Aamiin Allahumma Aamiin”. Kita telah memahami bahwa ungkapan ini adalah sebuah doa yang melambangkan harapan kita kepada Allah SWT untuk mengabulkan doa-doa kita yang baik. Dengan mengucapkan “Aamiin Allahumma Aamiin”, kita mengakui bahwa Allah adalah Maha Mendengar, Maha Mengabulkan, dan Maha Penyayang.

Mengucapkan “Aamiin Allahumma Aamiin” adalah bentuk manifestasi keyakinan, harapan, dan keterhubungan spiritual kita dengan Sang Pencipta. Dalam setiap kesempatan, baik saat salat berjamaah maupun saat mendengarkan doa-doa orang lain, kita memiliki kesempatan untuk menyampaikan “Aamiin” sebagai tanda persetujuan dan harapan akan dikabulkannya doa-doa tersebut.

Mari kita terus mengingat bahwa doa adalah sarana penting dalam hidup kita sebagai umat Muslim. Dalam setiap doa yang kita panjatkan, marilah kita selalu mengucapkan “Aamiin Allahumma Aamiin” dengan penuh keikhlasan dan keyakinan bahwa Allah SWT adalah Maha Pemurah dan Maha Mendengar doa hamba-Nya.

Dalam kesederhanaan ungkapan ini, terdapat kekuatan dan kebijaksanaan yang luar biasa. Semoga dengan mengucapkan “Aamiin Allahumma Aamiin”, doa-doa kita dikabulkan, kebaikan mengalir dalam hidup kita, dan kita senantiasa merasakan hadirnya rahmat-Nya.