Lirik ‘Salamullah Ya Sadah’: Teks Arab, Latin, dan Artinya

Sebagian besar umat muslim khususnya di Indonesia pasti mengetahui letak serta keberadaan makam para wali. Karena itu, tidak jarang umat muslim untuk melakukan ziarah ke makam-makam tersebut. Saat melakukan ziarah, biasanya akan dilantunkan kalimat salamullah ya sadah.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa wali merupakan gelar yang disandang oleh orang-orang taat terhadap Allah SWT. Wali yang memiliki arti sebagai “seseorang yang dipercaya” hingga “pemimpin” ini biasanya disematkan kepada orang yang beriman dan bertaqwa.

Sebagai seorang pemimpin, di Indonesia sendiri pada zaman dahulu wali adalah orang-orang yang memiliki andil besar dalam penyebaran agama Islam. Karena itu, hingga saat ini makam para wali masih kerap dikunjungi oleh umat muslim nusantara.

Lirik ‘Salamullah Ya Sadah’

Lirik Salamullah Ya Sadah

Saat berziarah ke makam, seseorang tentunya harus tetap menerapkan etika-etika tertentu terutama jika menziarahi makam para wali.

Tujuan dari menerapkan etika-etika tersebut selain untuk mendoakan para wali yang sudah mendahului, juga sebagai harapan agar peziarah mendapatkan keberkahan dari kegiatan tersebut.

Etika yang perlu ditanamkan saat mengunjungi makam para wali yaitu harus disamakan seperti etika berkunjung ketika para wali tersebut masih hidup. Umat muslim yang mengunjungi makam para wali untuk berziarah biasanya dianjurkan untuk hormat dan mengucap salam.

Selain itu, saat berkunjung juga hendaknya terus melantunkan dzikir serta doa-doa. Salah satu kalimat yang bisa dilantunkan saat mengunjungi makam para wali yaitu qasidah “salamullah ya sadah” yang artinya adalah “salam kepada para wali”.

Bacaan atau syair tersebut awalnya diciptakan oleh Habib Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad. Sedangkan judul atau namanya, merupakan kalimat penggalan atau bagian dari keseluruhan isi syair. Baik dibacakan saat memasuki kawasan makam para wali, ini dia lirik qasidah salamullah ya sadah.

Lirik arab:

سلام الله يا ساده ، من الرحمن يغشاکم

عباد الله جئناکم ، قصدناکم طلبناکم

تعينونا تغيثونا ، بهمتکم وجدواکم

فاحبونا واعطونا ، عطاياکم هداياکم

فلا خيبتموا ظنی ، فحاشاکم وحاشاکم

سعدنا إذ اتيناکم ، وفزنا حين زرناکم

فقوموا واشفعوا فينا ، إلی الرحمن مولاکم

عسی نحظی عسی نعطی ، مزايا من مزاياکم

عسی نظره عسی رحمه ، تغشانا وتغشاکم

سلام الله حياکم ، وعين الله ترعاکم

وصلی الله مولانا ، وسلم ما اتيتاکم

علی المختار شافعينا ، ومنقذنا وإياکم

Lirik latin:

Salâmullâhi yâ sâdah minar-Rohmâni yaghsyâkum

‘Ibâdallâhi ji,nâkum qoshodnâkum tholabnâkum

Tu’înûnâ tughîtsûnâ bihimmatikum wa jadwâkum

Fa ahbûnâ wa a’thûnâ  ‘athôyâkum hadâyâkum

Falâ khoyyabtumû dhonnî fahâsyâkum wahâsyâkum

Sa’idnâ idz ataynâkum wa fuznâ hîna zurnâkum

Faqûmû wasyfa’û fînâ ilâr-rohmâni mawlâkum

‘Asâ nuhdhô ‘asâ nu’thô mazâyâ min mazâyâkum

‘Asâ nadhroh ‘asâ rohmah taghsyânâ wa taghsyâkum

Salâmullâhi hayyâkum wa ‘ainullâhi tar’âkum

Wa shollâllâhu mawlânâ wasallama mâ atainâkum

‘Alâl mukhtâri syâfi’înâ wa munqidzinâ wa iyyâkum

Terjemahan:

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Wahai Tuanku, semoga salam Allah tetap tercurah padamu.

Wahai hamba-hamba Allah, kami datang kepadamu.

Kami bermaksud (bersentuhan dengan rohanimu) dan kami berharap (berkahmu).

Untuk menolong kami, menyejukkan kami dengan siraman yang berasal darimu, sesuai dengan tekad dan pencapaianmu (selama ini).

Maka cintailahlah dan berikanlah kepada kami hal-hal yang Allah berikan dan hadiahkan padamu.

Jangan biarkan pengharapan ini sia-sia, jauhlah engkau semua (dari sifat tega menyia-nyiakan kami).

Kami sangat beruntung datang di haribaanmu dan kami amat berbahagia dengan menziarahimu, maka bangkitlah dan syafaatilah kami bermohon pada Allah yang bersifat Ar-Rahman, Tuanmu.

Mudah-mudahan kami diberi (Allah) keberuntungan dan diberi limpahan karunia yang selama ini dianugerahkan kepadamu.

Mudah-mudahan kita dipandang dan dilimpahi rahmat yang akan menyelimuti kami dan engkau.

Semoga engkau semakin dihidupkan dengan keselamatan (dari) Allah dan semoga pandangan Allah senantiasa menuntun engkau.

Mudah-mudahan rahmat Allah dan keselamatan semakin terlimpah kepada tuan kita, manusia pilihan yang mensyafaati dan menyelamatkan kita.

Baca: Astaghfirullahaladzim

Hukum Ziarah Kubur dalam Islam

Meski sudah lazim dilakukan oleh muslim Indonesia, pastinya beberapa orang masih kerap bertanya-tanya mengenai hukum melakukan ziarah kubur termasuk ke makam para wali menurut ajaran Islam.

Bahkan, sering kali hukum dari berziarah ini menjadi perdebatan antar sesama umat muslim. Ada beberapa pihak yang melarang kegiatan ziarah ke makam tersebut, tapi ada sebagian lainnya yang menganjurkan umat muslim untuk berziarah.

Namun, apa hukum berziarah menurut Rasulullah SAW? Apakah ziarah termasuk kegiatan yang dilarang atau diperbolehkan?

Sebenarnya, dahulu Rasulullah SAW sempat melarang kegiatan ziarah kubur bagi umat Islam karena berbagai alasan. Namun kemudian, beliau mengubah hukum tersebut berziarah tersebut dari dilarang menjadi diperbolehkan.

Jadi kesimpulannya, menurut Rasulullah SAW ziarah kubur merupakan kegiatan yang boleh untuk dikerjakan oleh umat Islam. Tidak ada larangan atau bahkan mengharamkan kegiatan ziarah kubur dari Rasulullah SAW.

Seiring dengan diperbolehkannya kegiatan tersebut, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa ziarah kubur bahkan memiliki berbagai manfaat. Salah satu manfaat dari ziarah kubur menurut Rasulullah SAW yaitu akan meningkatnya keimanan umat muslim.

Bukan tanpa alasan, ziarah kubur dapat meningkatkan keimanan kepada Allah SWT karena umat muslim yang berkunjung ke makam akan lebih mengingat hari kematian serta akhirat. Hal tersebut dimuat dalam sebuah hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh HR. Hakim.

Hukum Ziarah Kubur dalam Islam

كُنْتُنَهَيْ تُكُمْعَنْزِ يَارَةِالْقُ بُورِأَلَافَ زُورُوهَا،فَ إِنَّهُيُرِق ُّالْقَلْبَ، وَتُدْمِعُال ْعَيْنَ،وَتُ ذَكِّرُالْآخ ِرَةَ،وَلَات َقُولُواهُجْ رً

Artinya: “Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah),” (HR. Hakim).

Dalam hadist tersebut dikatakan bahwa Rasulullah SAW memperbolehkan ziarah kubur karena dapat melunakkan hati umat muslim bahkan hingga meneteskan air mata karena mengingat kematian yang mungkin datang kapan saja.

Selain itu, hadits tersebut juga mengingatkan untuk seluruh umat muslim yang hendak berziarah ke makam para wali ataupun saudara untuk tidak berkata buruk.

Baca: Bismillahirrahmanirrahim

Etika Berziarah Kubur

Setia umat muslim yang hendak melakukan ziarah kubur baik ke makam saudara atau makam para wali, maka hendaknya untuk tetap menjaga etika dan adab. Berikut ini beberapa adab ziarah kubur yang perlu umat muslim ketahui:

1. Berwudhu

Adab berziarah tentu saja tidak hanya perlu dilakukan saat telah sampai di makam saja, tapi adab tersebut harus dimulai dari saat sebelum berangkat berziarah.

Beberapa dari umat muslim pastinya belum mengetahui bahwa adab paling pertama yang perlu dilakukan saat hendak berziarah yaitu mengambil wudhu. Hal tersebut tentunya dianjurkan bagi siapa saja yang hendak berziarah.

Berwudhu dapat diartikan sebagai “kesucian”. Sebelum mendoakan ahli kubur, maka peziarah tentu harus suci dari hadas kecil atau besar yang menempel di tubuh.

2. Mengucapkan Salam

Tidak hanya saat bertamu ke rumah, mengucap salam juga perlu dilakukan saat berkunjung ke sebuah makam. Salam menjadi adab pertama yang bisa dilakukan sambil menghadap wajah ahli kubur. Berikut bacaan salam sebelum berziarah:

Mengucapkan Salam

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَة

Artinya: “Keselamatan kepada penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin, kami InsyaAllah akan menyusul kalian semua. Aku memohon keselamatan kepada Allah untuk kami dan dan kalian semua.” (HR. Muslim).

Baca: 99 Asmaul Husna

3. Melepas Sandal

Meski terdengar sepele, tapi melepas sandal menjadi adab berziarah selanjutnya. Anjuran untuk melepas sandal sendiri bahkan diberikan oleh Rasulullah SAW, berikut ini haditsnya:

Melepas Sandal

يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ، أَلْقِ سِبْتِيَّتَكَ! فَنَظَرَ الرَّجُلُ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُوْلَ اللهِ، خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا

Artinya: “Wahai orang yang memakai sandal, celaka engkau, lepaslah sandalmu! Lalu orang itu melihat dan tatkala dia mengetahui (bahwa yang menegurnya adalah) Rasulullah SAW maka dia melepas dan melempar sandalnya,” (HR. Abu Daud).

Selain menjalankan perintah Nabi Muhammad SAW, melepas sandal juga termasuk bagian dari menjaga kebersihan lingkungan. Lokasi makam diibaratkan sebagai tempat yang suci, sehingga perlu dijaga kebersihannya, apalagi jika setiap hari selalu ramai dikunjungi oleh peziarah.

4. Mendoakan Mayat

Mendoakan Mayat

Seperti tujuan utama berziarah, ada yang perlu umat muslim lakukan saat berkunjung ke makam yaitu mendoakan mayat tersebut. Sebagai umat muslim yang masih hidup di dunia, sudah menjadi etika tersendiri untuk mendoakan mayat seperti meminta pengampunan mayat kepada Allah SWT.

Selain itu, saat berkunjung ke makam juga ada baiknya jika umat muslim dapat membacakan beberapa surat pendek. Selain berharap akan diturunkannya rahmat bagi sang mayat, pengunjung juga tentu saja mendapatkan pahala tersendiri.

Baca: Allahumma Antassalam Waminkassalam

5. Menghadap Kiblat

Menghadap Kiblat

Saat mendoakan mayit atau ahli kubur, alangkah lebih baik jika peziarah bisa melakukan doa sambil menghadap ke arah kiblat. Tentu saja hal tersebut akan jauh lebih baik dan utama dibanding dengan menghadap ke arah lain.

Hal ini juga diibaratkan seperti saat sedang shalat, dimana kita sebagai umat muslim diharuskan untuk menghadap ke arah ka’bah atau kiblat.

6. Boleh Menangis

Boleh Menangis

Ada beberapa orang yang melarang peziarah untuk menangis saat mengunjungi makam untuk berdoa atau sekadar menabur bunga. Padahal, menangis tentu saja diperbolehkan saat berziarah kubur.

Meski begitu, tentu saja menangis tersebut harus tetap dengan etika yaitu tidak boleh menangis secara berlebihan. Jadi, peziarah tetap diperbolehkan untuk meneteskan air mata asalkan tidak berlebihan.

Tentu saja adab-adab tersebut bisa diterapkan juga saat hendak mengunjungi makam para wali. Selain itu, umat muslim juga bisa menerapkan adab serta amalan lainnya yang dianggap baik, salah satunya yaitu dengan melantunkan syair salamullah ya sadah.

Tinggalkan komentar