10 Pesantren Tertua di Indonesia, Ada yang Dari Abad 15!

Anda sudah tau pesantren tertua di Indonesia? Sebelum bermunculan sekolah-sekolah modern, pesantren sudah banyak lebih dahulu hadir di Indonesia. Pengaruhnya sangat luas, karenanya hingga hari ini lembaga ini tetap bertahan dan terus bermunculan.

Penasaran apa saja pesantren yang paling tua di Indonesia? Berikut daftarnya?

1. Pesantren Al Kahfi Somalangu Kebumen

Pesantren Al Kahfi Somalangu
Kredit Foto: Adi Regard

Pesantren tertua pertama yang ada di Indonesia adalah Ponpes Al Kahfi. Al Kahfi berdiri pada abad 15 M, tepatnya pada tahun 1475 M. Adapun pendirinya adalah Syekh As Sayyid Abdul Kahfi Al Hasani. Beliau merupakan seorang ulama penyebar agama islam di tanah Jawa yang berasal dari Hadharamaut, Yaman. 

Adapun bukti kenapa Al Kahfi disebut sebagai pesantren tertua adalah dengan adanya sebuah Prasasti Batu Zamrud Siberia (Emerald Fuchsite) berbobot 9 kg yang ada didalam Masjid Pondok Pesantren tersebut.

Prasasti ini bertuliskan huruf Jawa & Arab. Terlihat jelas dalam prasasti tersebut terdapat tanggal yang tertera dengan huruf Arabic : “25 Sya’ban 879 H” Ini artinya bahwa Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu resmi berdiri semenjak tanggal 25 Sya’ban 879 H atau bersamaan dengan Rabu, 4 Januari 1475 M. 

Saat ini ponpes tertua di Kebumen Jawa Tengah masih eksis menyelenggarakan pendidikan. Kini pendidikan di Al Kahfi sudah menggabungkan Kurikulum Diknas dan Kurikulum Pesantren. Adapun pimpinan Al Kahfi saat ini adalah KH Afifuddin Chanif Al Hasani atau biasa dikenal dengan Gus Afif yang merupakan keturunan ke-16 dari sang pendiri.

Adapun alamat lengkap pesantren ini adalah: Kemecing, Sumberadi, Kec. Kebumen, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah 54317

2. Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan

Ponpes Sidogiri Tertua di Indonesia
Kredit Foto: Pesantren Sidogiri

Berikutnya adalah Ponpes Sidogiri. Pesantren ini didirikan oleh Sayyid Sulaiman. Beliau  membuka dan mendirikan pondok pesantren Sidogiri dengan dibantu oleh Kiai Aminullah. Kiai Aminullah adalah santri sekaligus menantu Sayyid Sulaiman yang berasal dari Pulau Bawean.

Konon pembabatan Sidogiri dilakukan selama 40 hari. Saat itu Sidogiri masih berupa hutan belantara yang tak terjamah manusia dan dihuni oleh banyak makhluk halus. Hutan belantara Sidogiri dipilih untuk dibuka dan dijadikan pondok pesantren karena diyakini tanahnya baik dan berbarakah.

Terdapat dua versi tentang tahun berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri yaitu 1718 atau 1745. Dalam suatu catatan yang ditulis Panca Warga tahun 1963 disebutkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri didirikan tahun 1718. Kemudian Dalam surat lain tahun 1971 yang ditandatangani oleh KA Sa’doellah Nawawie, tertulis bahwa tahun tersebut (1971) merupakan hari ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-226, yang artinya pesantren ini berdiri pada tahun 1745.

Hingga saat ini, Sidogiri masih aktif menjalankan pendidikannya dan bahkan menjelma menjadi pesantren yang menghasilkan banyak ulama besar di Indonesia.  Tak kurang nama-nama ulama’ besar seperti Syaikhona Cholil Bangkalan, Sang Guru para Kyai Tanah Jawa, adalah salah satu dari sekian banyak ulama handal jebolan Sidogiri.

Adapun alamat lengkap pesantren ini adalah: Sidogiri, Kec. Kraton, Pasuruan, Jawa Timur 67101

3. Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta

Pesantren Tertua di Solo Indonesia
Kredit Foto: Ponpes Jamsaren

Selanjutnya adalah Ponpes Jamsaren. Dikisahkan pada sekitar tahun 1750 aliran animisme dan adat istiadat Hindu masih menyelimuti Kota Surakarta. Karenanya Sultan Pakubuwono IV lantas mendatangkan para ulama ke Surakarta.

Salah satunya adalah Kyai Jamsari asal Banyumas yang kemudian mendirikan masjid di lokasi ponpes saat ini. Masjid tersebut itulah yang menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Jamsaren. Beliau lalu mengajarkan ajaran Islam ke masyarakat umum, bangsawan, dan pejabat istana Surakarta.

Dalam sejarahnya, Jamsaren pernah mengalami kevakuman pendidikan. Hal ini terjadi pada tahun 1830. Kala itu terjadi operasi tentara Belanda di Kota Surakarta yang membuat Kyai Jamsaren bersembunyi dan hingga akhirnya tidak pernah ditemukan lagi.

Namun Jamsaren bangkit kembali pada 1878, di tangan Kyai H. Idris asal Klaten. Beliau menemukan kampung Jamsaren dalam keadaan kosong dan berusaha membangun kembali Pondok Jamsaren serta mengembangkan ajaran Islam di daerah Surakarta.

Saat ini Ponpes Jamsaren masih aktif mendidik dan membina para santrinya. Banyak santrinya yang menjadi orang besar, misalnya KH Munawir Sazali (mantan Menteri Agama RI) dan KH Miftah Farid (mantan Ketua MUI Jabar). Adapun kini pendidikannya menggunakan Kurikulum Diknas yang sudah dikombinasikan dengan Kurikulum Pesantren.

Adapun alamat lengkap pesantren ini adalah: Jl. Veteran No.263, Serengan, Kec. Serengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57155

4. Pondok Pesantren Buntet Cirebon

Pesantren Tertua di Cirebon Jawa Barat
Kredit Foto: Pesantren Buntet

Berikutnya adalah Ponpes Buntet. Pesantren ini berdiri pada sekitar tahun 1750. Menurut catatan sejarah, ulama yang mendirikan pesantren ini adalah seorang mufti besar kesultanan Cirebon bernama Kiai Haji Muqoyyim bin Abdul Hadi (yang dikenal dengan sebutan Mbah Muqoyyim).

Pada saat awal berdirinya, Sang Pendiri Kyai Muqayyim tidak hanya mengajarkan tentang ibadah dan syariat Islam. Tapi juga, beliau mengajarkan kepada para muridnya untuk menjadi manusia yang dogdeng (sakti) melalui ilmu kanuragan (kesaktian/tenaga dalam). Hal inilah yang menyebabkan Pesantren Buntet sangat dikenal dengan ilmu bela dirinya.

Kini Pesantren tertua di Jawa Barat ini adalah sebuah komplek pesantren yang menaungi sekitar 53 pesantren dibawahnya. Yang mana setiap pesantren dipimpin oleh Kiai tersendiri dan memiliki pelajaran yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Akan tetapi secara umum kurikulum dan metode pengajaran antara satu pesantren dengan yang lainnya hampir sama.

Selain itu terdapat juga banyak Unit Pendidikan Formal dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi yang tersebar di kawasan pondok.

Adapun alamat lengkap Kawasan Pesantren ini adalah: Buntet Pesantren Desa, Mertapada Kulon, Kec. Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat 45181

5. Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang

Pesantren Tertua di Malang Jawa Timur
Kredit Foto: Luqman

Selanjutnya adalah Ponpes Miftahul Huda. Pesantren yang terletak di Kota Malang ini didirikan oleh KH Hasan Musnadi pada tahun 1768. Meskipun namanya Miftahul Huda, pesantren ini lebih masyhur dengan sebutan Pondok Gading karena tempatnya berada di kelurahan Gading Kasri.

Sang Pendiri KH. Hasan Munadi wafat pada usia 125 tahun. Beliau mengasuh pondok pesantren ini selama hampir 90 tahun. Beliau meninggalkan empat orang putra yaitu: KH. Isma’il, KH. Muhyini, KH. Ma’sum dan Nyai Mujannah. Pada masa itu, Pondok Gading belum mengalami perkembangan yang signifikan.

Adapun pesantren ini mulai maju pada saat kepemimpinan KH Moh. Yahya. Pada saat itu Beliau mengizinkan para santrinya untuk menuntut ilmu di lembaga formal di luar pesantren. Sebuah kebijakan yang cukup berani dan tergolong langka saat itu. Ternyata dengan kebijakan ini, Pondok Gading berkembang semakin pesat.

Saat ini Pesantren Tertua di Jawa Timur ini masih aktif membina para santrinya. Keunggulan dari pesantren ini adalah terletak pada ilmu hisabnya. Selain itu pondok gading juga terkenal sebagai pondok tasawuf, hal ini terjadi sebab pondok gading adalah pondok thoriqoh, yakni thoriqoh qadiriyah dan naqsabandiyah.

Adapun alamat lengkap pesantren ini adalah: Jl. Gading Pesantren No.38, Gading Kasri, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65115

6. Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan

Pesantren Tertua di Madura
Kredit Foto: Anwari Zahdan

Berikutnya adalah Ponpes Darul Ulum. Pesantren tertua di Madura ini bermula dari sebuah musholla yang didirikan oleh Kyai Itsbat bin Ishaq sekitar tahun 1787 M. Beliau adalah salah seorang ulama kharismatik yang terkenal dengan kezuhudan, ketawadhuan dan kearifannya yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh masyarakat dan pengasuh pondok pesantren di Pulau Madura dan Pulau Jawa.

Menurut catatan sejarah yang beredar, sebelumnya area pesantren ini merupakan daerah berupa hutan belantara yang kemudian dibabat oleh Kyai Itsbat untuk dijadikan sebuah Pesantren dan ditinggali oleh keluarga besarnya.

Penyebutan Pesantren Banyuanyar yang melekat pada Pesantren Darul Ulum ini, berasal dari dua suku kata, yaitu banyu atau banyo dan anyar. Kata Banyu (banyo) berarti air, sedangkan kata anyar dapat diartikan baru. Pemberian Banyuanyar sendiri berdasarkan kisah yang menyebutkan ditemukannya sumber mata air atau sumur yang cukup besar oleh Kyai Itsbat.

Sedangkan nama “Darul Ulum” adalah nama yang digunakan secara formal sejak tahun 1980-an sebagai nama lembaga, baik pendidikan formal maupun non formal. “Darul Ulum” juga menjadi nama institusi-institusi yang dikembangkan oleh Pondok Pesantren Banyuanyar.

Kini Ponpes Banyuanyar masih aktif mendidik dan menghasilkan santri-santri berkualitas dengan menyelenggarakan berbagai program pendidikan formal dan informal.

Adapun alamat lengkap pesantren ini adalah: Jl. PP. Banyuanyar, Poto’an Daya, Palengaan, Pamekasan, Madura, Jawa Timur 69362

7. Pondok Pesantren Hidayatut Thullab Trenggalek

Ponpes Hidayatut Thullab Trenggalek
Kredit Foto: Rizaldy Ilham

Selanjutnya adalah Ponpes Hidayatut Thullab. Pesantren yang satu ini didirikan oleh Kyai Yunus pada tahun 1790. Kyai Yunus berasal dari keluarga kerajaan Mataram yang memutuskan untuk menjauh dari kerajaan karena berselisih paham dengan kebijakan kerajaan yang menjalin hubungan dengan Belanda.

Di tempatnya yang baru, beliau membangun tempat tinggal sederhana yang beratapkan ilalang. Di tempat inilah awal mulanya penyebaran ajaran Islam di daerah tersebut. Daerah yang tadinya hanya berupa hutan belantara, dengan kedatangan Kyai Yunus yang membabat hutan tersebut menjadi sebuah hunian, akhirnya lambat laun menjadi pemukiman penduduk dan diberi nama Desa Kamulan.

Kemudian pesantren ini juga masyhur dengan sebutan Pondok Tengah. Penamaan tersebut dikarenkan untuk membedakan dengan pesantren lainnya yang masih berada pada wilayah Desa Kamulan. Setidaknya ada lima pesantren yang terletak di desa Kamulan. Posisi Pondok Pesantren Hidayatut Thullab berada di tengahnya.

Kini Ponpes Hidayatut Thullab masih eksis dalam penyelenggaraan pendidikan. Adapun pendidikannya masih memegang teguh ruh Pendidikan salaf. Namun sarana pendidikannya sudah mulai modern.

Adapun alamat lengkap pesantren ini adalah: Jl. Raya Kamulan – Durenan, Kamulan, Durenan, Kabupaten Trenggalek, 66381, Jawa Timur

8. Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen Pamekasan

Ponpes Miftahul Huda Panyeppen
Kredit Foto: Rofiq

Berikutnya adalah Ponpes Miftahul Ulum. Pesantren ini didirikan oleh RKH. Nashrudin bin Itsbat. Beliau mengasuh sendiri Miftahul Ulum selama 82 tahun (1827 – 1909). Adapun beliau wafat pada usia 123 tahun pada tahun 1950/1951.

Setelah kepemimpinan beliau, Miftahul Ulum diasuh oleh salah seorang putra beliau bernama RKH. Shirojuddin, selama kurang lebih 3 tahun (1909-1912). Kemudian dilanjutkan oleh salah seorang putra RKH. Nashruddin yang lain bernama RKH. Badruddin. Beliau mengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyepen selama 45 tahun (1912-1957). 

Menjelang RKH. Badruddin wafat kepemimpinan diserahkan kepada salah seorang menantunya yang bernama RKH. Asy’ari Bashiruddin dalam 14 tahun (1957-1971). Menantunya tersebut menjadi pimpinan pondok sambil menunggu kepulangan salah seorang putra RKH. Badruddin dari pondok pesantren Sidogiri Pasuruan yang bernama RKH. Mudatstsir Badruddin.

Akhirnya pada tahun 1971 RKH. Mudatstsir Badruddin kemudian menjadi pengasuh Miftahul Ulum sampai sekarang.

Sejak 1971 hingga sekarang, Miftahul Ulum telah mengalami berbagai kemajuan dalam bidang fisik maupun non fisik. Di antara kemajuan non fisik yang telah dicapai adalah berdirinya pendidikan lanjutan formal, berupa Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah sebagai pengembangan dari system wathon ke system klasikal. Bahkan kini terdapat juga pendidikan jenjang SMP, SMA, SMK dan Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAIM).

Adapun alamat lengkap pesantren ini adalah: Palengaan Barat, Potoan Laok, Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur 69362

9. Pondok Pesantren Al Iman Purworejo

Ponpes Tertua di Purworejo
Kredit Foto: Akhmad Mustafid

Selanjutnya adalah Ponpes Al Iman. Menurut sejarah, awal mula berdiri Pesantren ini adalah dari seorang tokoh Ulama yang ‘Alim yaitu Simbah Kyai Ahmad ‘Alim. Beliau dibuang oleh Belanda ke desa Bulus yang masih hutan belantara. Beliau dibuang agar tidak mendakwahkan lagi agama islam di pusat pemerintahan Purworejo.

Namun karena perjuangan Almaghfurlah untuk Li i’la’i Kalimatillah, maka di desa tersebut   beliau mendirikan Pesantren Al Iman yang kurang lebih terjadi pada tahun 1828.

Setelah Mbah Ahmad Alim wafat pada tahun 1842, para murid banyak yang kembali ke daerah asalnya masing-masing, sedangkan putera-puteranya mendirikan pesantren sendiri antara lain di Maron. Oleh karena itu, pesantren sempat mengalami kekosongan selama sekitar tiga tahun.

Kemudian, pesantren dihidupkan kembali oleh Sayyid Ali, salah satu menantu Mbah Ahmad Ngalim, yang diberi amanah tanah pesantren. Setelah Sayyid Ali wafat, kepemimpinan pesantren kemudian dilanjutkan puteranya, Sayyid Muhammad, dan selanjutnya diteruskan kepada puteranya, Sayyid Dahlan.

Singkat cerita pada tahun 1955 pesantren di Bulus dihidupkan lagi oleh Sayyid Agil (ayah KH Hasan Agil Ba’abud), putra bungsu dari Sayyid Muhammad atau adik dari Sayyid Dahlan yang pindah ke Kauman. 

Saat ini Ponpes Al Iman masih aktif dalam mendidik dan membina santri. Kini di Al Iman terdapat pendidikan non formal dan formal dari jenjang RA hingga Ma’had Aly.

Adapun alamat lengkap pesantren ini adalah: Ds. Bulus, Kec. Gebang, Kab. Purworejo, Jawa Tengah 54191

10. Pondok Pesantren Tremas Pacitan

Pesantren Tremas Pacitan
Kredit Foto: Yuli Anto

Terakhir adalah Pesantren Tremas. Menurut kisahnya, pesantren ini didirikan oleh KH Abdul Mannan pada tahun 1830. Bagus Darso (nama kecil KH Abdul Mannan) Sejak kecil beliau sudah terkenal cerdas dan sangat tertarik terhadap problematika religius.

Pada masa remajanya beliau dikirim oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo untuk mempelajari dan memperdalam pengetahuan agama. Singkat cerita beliau selesai menuntur ilmu dan akhirnya pulang ke Semanten. Di desa inilah beliau kemudian menyelenggarakan pengajian yang sangat sederhana. 

Karena keluasan ilmunya, maka banyaklah orang Pacitan yang mengaji pada beliau. Dari sinilah kemudian di sekitar masjid didirikan pondok untuk para santri yang datang dari jauh. Namun beberapa waktu kemudian pondok tersebut pindah ke daerah Tremas setelah beliau dikawinkan dengan Putri Demang Tremas R. Ngabehi Hongggowijoyo.

Tremas merupakan daerah yang jauh dari keramaian atau pusat pemerintahan, sehingga sangat cocok bagi para santri untuk belajar. Akhirnya setelah berpindah, beliau secara resmi mendirikan Ponpes Tremas pada tahun 1830.

Kini, Ponpes Tremas masih eksis dalam dunia percaturan pesantren di Indonesia. Tak hanya itu, bahkan pesantren ini kini telah menjelma menjadi pesantren yang sangat diakui keilmuannya di Indonesia.

Adapun alamat lengkap pesantren ini adalah: Jalan Patrem No 21. Tremas, Arjosari, Pojok II, Tremas, Kec. Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur 63581

Nah, demikianlah deretan pesantren tertua di Indonesia. Mau nyantri di sana?

Baca juga:

Daftar 500 Pesantren Terbaik di Indonesia


Tinggalkan komentar