Kitab Tafsir Jalalain: Pengertian, Pengarang, Metode, Kelebihan, dan Harganya

Tidak ada lagi keraguan, bahwasanya Al Qur’an merupakan petunjuk kehidupan bagi setiap manusia. Hanya saja sebagai sebuah petunjuk terkadang masih banyak ayat dalam Qur’an yang belum bisa dipahami masyarakat awam. Nah agar masyarakat awam dapat memahami isi kandungan Al Qur’an, maka para ulama berlomba-lomba untuk menulis tafsir dari ayat-ayat Qur’an ke dalam sebuah kitab. Salah satu tafsir yang cukup terkenal dan menjadi rujukan masyrakat adalah kitab tafsir jalalain.

Lantas apa sih sebenarnya kitab tafsir jalalain itu, siapa pengarangnya, bagaimana metode penulisannya dan apa kelebihannya dibandingkan tafsir yang lain? Penasaran? Simak ulasan kami berikut ini!

Pengertian

Tafsir Al-Jalalain merupakan kitab fenomenal dalam perjalanan sejarah keilmuan Islam, khususnya dalam bidang ilmu tafsir. Kelugasan bahasa dan metode penyampaiannya yang sederhana tidak menghalangi keterpopuleran buku ini di tengah-tengah karya para ulama yang mendalam dan luas keilmuannya.

Karena itulah bisa dikatakan kitab ini merupakan kitab tafsir yang paling banyak dikaji oleh pesantren-pesantren yang ada di Indonesia. Hal ini karena tafsirnya ringkas dan tidak berjilid-jilid seperti tafsir Qur’an pada umumnya. Para kyai biasanya menjadikan kitab ini sebagai bahan kajian umum bagi para santrinya dalam permulaan perjalanan dalam mengarungi luasnya ilmu Al-Qur’an.

Kitab ini dinamai dengan Jalalain disebabkan kitab tersebut dikarang oleh dua orang ulama yang kebetulan memiliki gelar yang hampir sama, yaitu Jalaluddin, sebuah gelar yang tentu memiliki makna dan alasan dibaliknya.

Menurut Syeikh Ahmad bin ash-Shawi, julukan Jalaluddin bermakna sosok yang diagungkan dalam bidang ilmu agama dan gelar ini hanya diberikan kepada seseorang yang diagungkan sebab kontribusinya yang besar dalam karya-karyanya di bidang ilmu agama. Oleh sebab itulah, karya tafsir ini disebut dengan Tafsir Jalalain yang bermakna tafsir dua orang yang bergelar al-Jalal. Kedua Jalaluddin tersebut adalah Imam Muhammad bin Ahmad al-Mahalli dan Imam Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi.

Namun, disusunnya Tafsir Jalalain ini oleh dua orang bukanlah dengan unsur kesengajaan sebagaimana kolaborasi zaman sekarang. Sejatinya Imam Jalaluddin Al-Mahalli adalah penyusun sebenarnya kitab tersebut, hanya saja beliau meninggal setelah hanya sempat menyelesaikan Tafsir Surat Al-Fatihah bersama surat-surat setelah Al-Isra’.

Melihat hal ini, Imam Jalaludin as-Suyuthi yang juga merupakan murid dari Imam Jalaluddin Al Mahalli berinisiatif untuk menyelesaikan tafsir milik gurunya tersebut. Akhirnya beliau pun menulis tafsir ayat yang belum sempat ditafsirkan gurunya yaitu dari surat Al-Baqarah hingga surat Al-Isra.

Dalam penafsirannya tersebut, Imam Suyuthi menggunakan metode penafsiran sebagaimana yang dipakai gurunya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dalam memberikan penafsiran. Hal ini bertujuan agar kitab tersebut menjadi lebih mudah dipahami oleh para penuntut ilmu.

Pengarang Kitab

Imam Jalaludin Al Mahalli

Imam Jalaluddin Al Mahalli Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim bin Ahmad bin Hashim Al-Jalal, Abu Abdillah bin al-Syihab, Abi Al-’Abbas bin al-Kamal al-Ansari, Al-Mahalli, Al-Qahiri, Al-Syafii. Beliau dilahirkan dilahirkan di Mesir pada bulan Syawal tahun 791H. dan wafat pada tahun 864 H. di Mesir, dan dimakamkan disana juga.

Jalaluddin Al-Mahalli adalah seorang mufasir (ahli tafsir) berkebangsaan Mesir. Ia lebih dikenal dengan julukan Jalaluddin Al-Mahalli yang berarti orang yang mempunyai keagungan dalam masalah agama. Sedangkan sebutan Al-Mahalli dinisbahkan pada kampung kelahirannya, Mahalla Al-Kubra, yang terletak di sebelah barat Kairo.

Sejak kecil tanda-tanda kecerdasan sudah menonjol pada diri Mahalli. Ia ulet menyerap berbagai ilmu, mulai dari tafsir, ushul fikih, teologi, fikih, matematika, nahwu dan logika. Mayoritas ilmu tersebut dipelajarinya secara otodidak, hanya sebagian kecil yang diserap dari ulama-ulama salaf pada masanya, seperti Al-Badri Muhammad bin Al-Aqsari, Burhan Al-Baijuri, A’la Al-Bukhari dan Syamsuddin bin Al-Bisati.

Sebagai seorang ulama, beliau dikenal cukup produktif dalam menulis kitab. Diantara kitab-kitabnya yang terkenal adalah:

  • Kanzur Roghibin
  • Syarh al Minhaj
  • Al Badrut Tholi’ fi Hilli Jam’il Jawami’
  • Syarh Waroqot
  • Al Anwar al Mudli’ah
  • Al Qoulul Mufid fi an Nailis sa’id
  • At Thib an-Nabawi
  • Tafsir Jalalain
  • Dan masih banyak yang lainnya.

Imam Jalaluddin As Suyuthi

Imam Jalaluddin As Suyuthi bernama lengkap Abd al-Rahman ibn Kamal al- Din Abu Bakar ibn Muhammad ibn Sabiq al-Din ibn Fakh al-Din Usman ibn Nais al-Din Muhammad ibn Sayf al-Din al-Khudayri Jalal al-Din al-Suyuti al-Misriy al-Syafi’I. Beliau dilahirkan di Kairo tanggal 1 Rajab, tahun 849 H, bertepatan dengan tanggal 3 Oktober 1445 M, pada malam Ahad setelah maghrib.

Allah menganugerahkan kepadanya kemudahan untuk meraih ilmu sejak kecil, kecerdasan di atas rata-rata, dengan lingkungan yang kondusif. Dia hidup di lingkungan keluarga yang kental nuansa ilmiahnya.

Sewaktu kecil, ayahnya pernah membawanya ke majelis Syekh Muhamamd Al-Majdzub dan memperoleh doa keberkahan darinya. Dia juga sempat diajak ke majelis Al-Hafizh Ibnu hajar dan mendapatkan ijazah (rekomendasi periwayatan umum) darinya.

Dalam perjalanannya menuntut ilmu agama, ia mempunyai prinsip dalam mencari ilmu, yaitu menerapkan dua manhaj talaqqi ilmu (metode mencari ilmu). Pertama, memilih satu guru dan bermulazamah kepada guru tersebut dalam waktu yang cukup atau sampai sang Guru meninggal. Kedua, dalam mencari ilmu, ia tidak membatasi diri pada syekh-syekh tertentu saja.

Berkat ketekunan dan ketelatenannya dalam memperdalam ilmu, akhirnya, As-Suyuthi mampu menguasai ilmu agama. Tidak hanya dalam satu disiplin ilmiah ia menjadi kampiun, tetapi lebih dari satu disiplin ilmiah. Dia pernah berkata, “Aku dikaruniai kedalaman ilmu dalam tujuh bidang, yaitu: tafsir, hadis, fikih, nahwu, al-ma’ani, al-bayan, dan al-badi.”

Sebagai seorang ulama yang sangat diakui keluasan ilmunya, beliau telah menulis banyak sekali kitab. Tercatat semasa hidupnya beliau telah menelurkan lebih dari ratusan karya. Diantara kitab-kitabnya tersebut adalah:

Dalam Bidang Tafsir dan Ulumul Qur’an

  • Al-Durr al-Mansur fi Tafsir bi al-Ma’sur.
  • Setengah dari Tafsir al-Jalalain
  • Majma’ al-Bahrain wa Matla’ al-Badrain
  • Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an
  • Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul
  • Hasyiyah Anwar al-Tanzil

Dalam Bidang Hadits, Syarah Hadits, dan Ilmu Hadits

  • Al-Jami’ al-Sagir min Ahadis al-Basyir wa al-Nazir
  • Tanwir al-Hawalik fi Syarah Muwatta’ al-Imam Malik
  • Jam’ual-Jawami’
  • Syarah Al-fiyyah al-‘Iraqi
  • Kasyf al-Muwatta
  • Lubab al-Hadis

Dalam Bidang Fiqih dan Ushul Fiqih

  • Al-Hawi li al-Fatawa
  • Al-Wafi fi Syarh al-Tanbih li Abi Ishaq al-Syairazi
  • Al-Tahaddus bi al-Ni’mah
  • Al-Radd ‘ala Man Akhlad ila al-Ard wa Jahil ‘An al-Ijtihad fi Kulli Asr Fard

Selain kitab-kitab diatas, masih banyak lagi kitab-kitab beliau yang belum kami sebutkan.

Metode Penafsiran

Dalam melakukan penafsiran terhadap Al Qur’an Imam al-Mahalli dan Imam as-Suyuti dalam Jalalain-nya, tidaklah menggunakan sistem periwayatan, namun menggunakan ijtihad. Oleh karena itulah, para ulama’ ilmu al-qur’an, seperti Manna’ Qathan, Ali Ash-Shabuni, Adz-Dzahabi, memasukkan tafsir jallalain dalam kelompok tafsir bir-ra’yi.

Menurut Imam Adz-Dzahabi tafsir bir-ra’yi adalah tafsir yang penjelasannya diambil berdasarkan ijtihad dan pemikiran mufassir setelah dahulu mengetahui bahasa arab serta metodenya, dalil hukum yang ditunjukkan, serta problema penafsiran seperti asbabun nuzul, nasikh mansukh, dan sebagainya.

Karena itulah di dalam kitab ini, kedua penulis dalam menafsirkan ayat-ayat Qur’an melakukannya dengan menjelaskan maksud sebauah kata, ungkapan atau ayat. Kemudian kitab ini menjelaskan faktor kebahasaan dengan menggunakan cara-cara berikut:

  • Menerangkan kata dari segi sharafnya jika hal itu dianggap penting untuk diperhatikan dengan mengambil struktur (wazn) katanya
  • Menerangkan makna kata atau padanan kata (sinonim) jika dianggap belum dikenal atau mengandung makna yang agak khusus
  • Menjelaskan fungsi kata (subjek, objek, predikat atau yang lainya) dalam kalimat

Karena cara dan metodenya seperti itu, di dalam penulisannya kitab ini tersusun sebagai baris-baris tulisan biasa. Yang membedakan antara teks Al-Qur’an dan tafsirannya adalah tanda kurung, teks Al-Qur’an berada dalam dua tanda kurung, sedangkan penafsiran dan penjelasan bahasa tanpa tanda kurung.

Kemudian Dalam bentuknya yang klasik, tafsir Jalalain tidak hanya memuat kitab tafsir, tetapi juga kitab-kitab lain. Jika Anda melihat kitab jalalain, tafsirnya berada didalam kotak persegi empat besar ditengah. Nah pada bagian sampingnya dituliskan 4 kitab lain, yaitu:

  • Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi
  • Fi Ma’rifah an-Naskh wa al-Mansukh karya Imam Abi Abdullah Muhammad bin Hazm
  • Alfiyah fi Tafsir Garib Alfaz Al-Qur’an karya Imam bin Zar’ah al-Iraqi
  • Ma Warada fi al-Qur’an al-Karim min Lughat al-Qaba`il karya Imam bin al-Qasim bin Salam

Kelebihan Kitab

Sebagai sebuah kitab tafsir yang sangat fenomenal, tentu saja tafsir jalalain memiliki banyak sekali kelebihan dibandingkan kitab-kitab tafsir yang lainnya. Diantara kelebihan dan keunggulan tafsir jalalain adalah:

  • Penggunaan bahasa yang singkat, padat dan mudah dipahami oleh kalangan awam sekalipun.
  • Menyebutkan pendapat yang rajih atau kuat dari berbagai pendapat yang ada.
  • Sering menyebutkan sisi i’rab dan qira’at secara ringkas.

Karena kelebihannya inilah para ulama banyak menelaah kitab tafsir ini dan bahkan ada yang memberikan catatan kaki, juga penjelasan (syarah). Diantara syarah dari tafsir jalalain adalah:

  • Majma’ al-Bahrayn wa Mathla’ al-Badrayn ‘ala Tafsir al-Jalalain karya Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad al Karkhi al Bakri
  • al-Futuhat al-Ilahiyyah bi Tawdhih al-Jalalayn li ad-Daqaiq al-Khafiyyah karya Abu Dawud Sulaiman bin Umar bin Manshur al Ajiily al Azhary al Jamal
  • Hasyiyah as-Showi ‘ala al-Jalalayn karya Ahmad bin Muhammad as-Showi
  • Anwar al-Hudaa wa Amthor al-Nada’ karya Usman Jalaluddin al Kalantani
  • Qurratu al-‘Aynayn ‘ala Tafsir al-Jalalayn karya Muhammad Ahmad Kan’an al Qodhi

Harga Kitab

Berkaitan dengan harga dari kitab yang fenomenal ini, bisa dikatakan harganya terbilang cukup murah dan terjangkau. Berdasarkan pengamatan kami, harga kitab jurumiyah ini berada di kisaran dari angka 48.000 hingga ratusan ribu rupiah. Perbedaan harga tersebut dipengaruhi dari kertas dan penerbitnya.

Selain itu ada juga kitab yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Berikut harga kitab tafsir jalalain yang kami dapatkan dari beberapa marketplace online:

HargaJenis Kitab
Sekitar Rp. 48.000Tafsir Jalalain Cet Nurul Mustofa Surabaya
Sekitar Rp. 250.000Tafsir Jalalain 4 Jilid (Beserta Asbabunnuzul) Cet Sinar Baru Algesindo
Sekitar Rp. 104.000Tafsir Jalalain Cet DKI Beirut
Sekitar Rp. 130.000Tafsir Jalalain Cet Daruttaqwa
Sekitar Rp. 115.000Tafsir Jalalain Mushaf Qur’an Utsmani
Sekitar Rp. 75.000Tafsir Jalalain Logat Sunda
Sekitar Rp. 210.000Terjemah Tafsir Jalalain Cet Ummul Qura

Penutup

Bagaimana, sudah jelas mengenai synopsis dan profil dari kitab tafsir jalalain ini? Semoga dengan membaca ini Anda akan semakin tercerahkan dan semakin semangat dalam mentadabburi ayat-ayat Al Qur’an ya.

Baca Juga:

Kitab Kuning: Pengertian, Sejarah, dan Ciri-cirinya

Kitab Arbain Nawawi: Pengertian, Biografi Pengarang, Isi, dan Syarahnya

Tinggalkan komentar