Kitab Talim Mutaallim: Pengertian, Isi, dan Pengarangnya

ADVERTISEMENT
X CLOSE
X CLOSE
Advertisements

Sudah maklum diketahui, bahwasanya menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Tak terhitung banyaknya dalil yang memerintahkan tentang hal ini, baik dari Qur’an maupun hadits. Sebagai sebuah bentuk ibadah, aktivitas menuntut ilmu tentu harus dibarengi dengan tuntunan dan metode yang benar. Nah salah satu kitab yang membahas mengenai tata cara dan tuntunan dalam menuntut ilmu adalah kitab talim mutaallim.

Lantas apa sih sebenarnya kitab talim mutaallim itu, apa saja pembahasannya, dan kenapa sih kita harus mengkaji kitab ini? Penasaran? Simak ulasan kami berikut ini

Apa itu Kitab Talim Mutaallim?

Secara bahasa, ta’lim merupakan isim mashdar dari kata ‘allama yang memiliki arti mengajar dan mendidik. Adapun muta’allim merupakan isim fail dari kata ta’allama yang memiliki arti belajar, sehingga muta’aalim dapat diartikan sebagai orang yang sedang belajar. Nah dari segi penamaan kitabnya saja, sudah jelas bahwa kitab ini merupakan kitab yang berkaitan dengan aktivitas pembelajaran.

Kitab talim mutaallim sendiri bisa dikatakan merupakan salah satu kitab yang paling fenomenal, khususnya di kalangan kaum sarungan. Betapa tidak, hampir semua pesantren di Indonesia, baik yang bercorak salafiyah dan kholafiyah mereka menggunakan kitab ini sebagai pegangan utama bagi para santrinya dalam menuntut ilmu.

Meskipun memang ada juga pesantren yang menggunakan kitab yang serupa dengan kitab ini. Misalnya sebut saja kitab al-Akhlâq lil Banîn karya Syekh Umar bin Ahmad Baraja, Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, Bidâyatul Hidâyah karya Imam al-Ghazali, dan yang lainnya.

Adapun alasan utama dari banyaknya pesantren yang menggunakan kitab ini adalah supaya para santri memahami akhlak yang terpuji dan tata cara menuntut ilmu yang benar. Selain itu dengan mengkaji kitab ini diharapkan para santri memiliki ilmu yang bermanfaat dan dengan ilmunya dapat diamalkan saat mengabdi di masyarakat.

Pengarang Kitab

Adapun yang menjadi pengarang dan penyusun masterpiece yang satu ini adalah seorang ulama yang lahir di negeri turki yaitu Imam Al Zarnuji. Nama lengkap beliau adalah Burhânuddîn Ibrâhim al-Zarnûji al-Hanafi. Kata al-Zarnuji dinisbatkan kepada salah satu kota terkenal dekat sungai Oxus, Turki. Dari penisbatannya kepada al-Hanafi di ujung namanya, maka dapat diketahui bahwa beliau merupakan seorang ulama yang bermazhab Hanafi.

Mengenai tahun kelahirannya para ulama tarikh masih berbeda pendapat, begitupun dengan tahun wafatnya. Sebagian menyebutkan Imam al-Zarnûji wafat pada 591 H, namun ada juga yang menyebutkan wafat pada 640 H.

Sebagai seorang ulama, tentu saja beliau memiliki banyak guru. Diantara guru-gurunya atau yang pernah berhubungan langsung dengan beliau yaitu Imam Burhan al-Din Ali bin Abi Bakr al-Farghinani al-Marghinani (wafat 593 H/1195 M), Imam Fakhr al-Islam al-Hasan bin Mansyural-Farghani Kadikhan (w. 592 H/ 1196 H), Imam Zahir al-Din al-Hasan bin Ali Marghinani (w. 600 H/1204 M), Imam Fakr al-Din al-Khasani (w. 587 H/ 1191), Imam Rukn al-Din Muhammad bin Abi Bakr, Imam Khwarzade (491-576 H)

Nah kebanyakan dari para ulama tersebut adalah ahli fiqih bermadzhab hanafi sekaligus juga ahli sastra. Oleh karena ini mungkin faktor inilah yang menyebabkan banyaknya nasihat yang dikutip oleh Imam al-Zarnûji berasal dari ulama Hanafiyah, dan banyaknya syair di dalam kitab ini.

Adapun yang menjadi alasan disusun dan ditulisnya kitab ini oleh beliau adalah sebagaimana yang beliau tulis di dalam muqoddimah kitabnya yaitu:

فلما رأيت كثيرا من طلاب العلم فى زماننا يجدون إلى العلم ولايصلون ومن منافعه وثمراته ـ وهى العمل به والنشر ـ يحرمون لما أنهم أخطأوا طريقه وتركوا شرائطه، وكل من أخطأ الطريق ضل، ولاينال المقصود قل أو جل، فأردت وأحببت أن أبين لهم طريق التعلم على ما رأيت فى الكتب وسمعت من أساتيذى أولى العلم والحكم

Artinya: “Tatkala aku melihat banyak dari para penuntut ilmu pada masa kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, namun tidak dapat mencapai hasilnya. Di antara manfaat dan buah ilmu adalah mengamalkan ilmu dan menyebarkannya. Mereka terhalang (dari ilmu) sebab kesalahan dalam metode mencari ilmu, dan mereka meninggalkan syarat-syaratnya.

Sedangkan setiap orang yang salah jalan maka akan tersesat, dan tidak mendapat sesuatu yang ia inginkan sedikit ataupun banyak. Maka aku ingin menjelaskan kepada mereka tata cara belajar berdasarkan yang telah aku lihat dan dengar dari guru-guruku yang memiliki ilmu dan hikmah.”

Mengapa Harus Mempelajarinya?

Mengetahui Metode Menuntut Ilmu yang Benar

Dengan mengkaji kitab yang ringkas ini, insya Allah anda akan selamat dari kesalahan dan syubhat yang terdapat dalam aktivitas menuntut ilmu. Selain itu kitab ini pun akan mengarahkan Anda agar senantiasa ikhlas dan memiliki niat yang benar dalam menuntut ilmu.

Mempermudah Dalam Menghafal Sesuatu

Di salah satu pembahasan kitab ini ada bab yang menjelaskan seputar cara menghafal ilmu secara baik dan benar. Yang mana dibahas juga mengenai hal-hal apa saja yang dapat membuyarkan hafalan dalam diri Anda.

Memilih Guru dan Teman yang Tepat dalam Belajar

Kemudian alasan berikutnya adalah supaya Anda dapat memiliih guru yang tepat. Hal ini karena salah satu bab dalam kitab ini membahas hal tersebut. Insya Allah dengan guru yang tepat Anda akan semakin lebih mudah dalam memahami suatu fan ilmu. Selain itu setelah mengkaji kitab ini, Insya Allah Anda akan lebih selektif ketika memilih teman dalam belajar. Hal ini amat penting, karena jika Anda memilih teman yang salah maka Anda dapat terjerumus ke dalam lubang penyesalan.

Isi Kitab

Secara umum, kitab ini terbagi ke dalam 13 bab. Adapun bab-bab tersebut antara lain:

Bab 1: Hakikat Ilmu Pengetahuan, Fiqih, serta Keutamaannya

Dalam bab ini Imam al-Zarnuji membahas mengenai kewajiban menuntut ilmu, dan tidak semua ilmu harus dipelajari. Karena ilmu yang wajib dikaji adalah Ilmul hâl, seperti ilmu iman, ilmu shalat, zakat, dan semacamnya. Setelah itu beliau menyebutkan keutamaan-keutamaan menuntut ilmu, dan kemudian beliau menganalogikan keutamaan Nabi Adam AS dibanding para malaikat adalah karena ilmu yang dimilikinya.

Bab 2: Niat Dalam Belajar

Imam Zarnuji menyebutkan, bahwa seorang pelajar harus memiliki niat saat menuntut ilmu. Ada beberapa niat yang dianjurkan beliau dalam menuntut ilmu. Pertama, mencari ridha Allah SWT. Kedua, menghilangkan kebodohan dirinya dan orang lain. Ketiga, menghidupkan agama dan mendirikan Islam. Keempat, mensyukuri nikmat akal dan kesehatan badan.

Bab 3: Cara Memilih Ilmu, Guru, Teman dan Tekad dalam Belajar

Imam al-Zarnuji memberi saran bagi para pelajar untuk memilih ilmu, guru, dan teman. Hendaknya seorang pelajar mengutamakan ilmu yang dibutuhkannya sekarang dalam urusan agama (ilmul hal), barulah berikutnya mengkaji ilmu yang berguna baginya pada masa yang akan datang.

Beliau juga menyarankan agar mencari guru yang lebih pandai dan lebih sepuh dari dirinya. Kemudian beliau pun menyarankan agar seorang pelajar memilih teman yang tekun, wara’, baik tabiatnya, dan tanggap.

Bab 4: Menghormati Ilmu dan Ahlinya

Imam al-Zarnuji menuturkan bahwa seorang pelajar baru akan memperoleh ilmu ketika ia menghormati ilmu dan pemiliknya, yaitu gurunya. Beliau menyebut etika apa saja yang harus dilakukan seorang pelajar atas gurunya, diantaranya adalah tidak duduk di tempat duduk gurunya, tidak memulai percakapan dengan guru kecuali atas izinnya, tidak banyak berbicara di sisi gurunya, dan lain-lain.

Bab 5: Kesungguhan Dalam Belajar

Disini Imam al-Zarnuji berpandangan bahwa ilmu adalah tujuan yang agung, ia harus dicapai dengan kesungguhan, ketekunan dan semangat yang tinggi. Kesungguhan tidak hanya bergantung pada pelajar saja, namun guru dan orangtua pun harus bersungguh-sungguh menyiapkan pendidikan anaknya.

Bab 6: Permulaan Belajar, Ukuran, dan Tata Tertibnya

Imam al-Zarnuji menyinggung soal urutan tingkat pelajaran yang mesti diajarkan guru kepada murid, yaitu dari dasar baru kemudian kepada tingkat yang lebih tinggi. Selain itu beliau juga menyebut bahwa merupakan suatu keharusan bagi pelajar untuk saling menggelar kegiatan seperti mudzâkarah, munâdharah, dan almuthârahah.

Bab 7: Tawakal Kepada Sang Pencipta

Di dalam bab ini, Beliau menyatakan bahwa seorag pelajar harus berserah diri kepada Allah SWT. Selain itu beliau juga menganjurkan para pelajar untuk tidak perlu merasa sulit dan menyibukkan hati dalam masalah rezeki. Sebab rizki sudah diatur oleh Allah.

Bab 8: Masa-masa Produktif

Meskipun menuntut ilmu merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan setiap muslim hingga tutup usia, disini Imam al-Zarnuji berpendapat bahwa waktu terbaik untuk mencari ilmu adalah saat masih muda. selain itu beliau juga menyebut jika seorang pelajar merasa jenuh terhadap satu disiplin ilmu, maka ia dapat beralih pada disiplin ilmu yang lain.

Bab 9: Nasihat dan Kasih Sayang

Imam al-Zarnuji disini menasihati para pelajar agar hendaknya memiliki rasa kasih sayang, bersedia memberi nasihat dan juga tidak iri hati. Kemudian seorang pelajar juga seharusnya menghindari permusuhan dengan orang lain, karena dapat menyia-nyiakan waktu. Beliau juga menyarankan agar setiap pelajar selalu positif thinking dan tidak berburu sangka kepada orang lain.

Bab 10: Mengambil Faidah Pembelajaran

Disini Imam al-Zarnuji telah meletakan metode praktis untuk menambah pengetahuan, di antaranya ialah dengan mempersiapkan alat tulis setiap saat, tidak menyia-nyiakan waktu, bergaul dengan guru dan tamak kepada ilmu, fokus ketika pelajaran, dan taat kepada seorang guru.

Bab 11: Bersikap Wara Saat Belajar

Dalam bab ini beliau memberi nasihat kepada para pelajar untuk menjauhi rasa kenyang, banyak tidur, banyak membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat, menghindari makanan dari pasar bila memungkinkan, menggunjing, bergaul dengan orang yang rusak akhlaknya.

Bab 12: Seputar Hapal dan Lupa

Imam Zarnuji menyebutkan bahwa hal yang banyak membantu hafalan ialah kesungguhan, tekun, sedikit makan, shalat di malam hari, dan membaca Al-Qur’an. Sedangkan hal-hal yang dapat menyebabkan lupa di antaranya adalah banyak berbuat maksiat, banyak melakukan dosa, gelisah, khawatir, dan sibuk dengan urusan dunia.

Bab 13: Sumber dan Penghambat Rezeki serta Penambah dan Pemotong Usia

Dalam pasal ini Imam al-Zarnuji mengingatkan bahwa seorang pelajar harus mengetahui apa saja yang menambah rezeki dan apa saja yang menambah panjang usia dan kesehatan, agar proses belajar dapat diselesaikan dengan baik. Beliau juga menyebut ahwa perbuatan dosa dan dusta dapat menjadi penghalang datangnya rezeki.

Penutup

Bagaimana, sudah jelas mengenai sinopsis dan profil dari kitab ta’lim muta’aalim. Semoga dengan membaca ini Anda dapat menuntut ilmu dengan baik dan benar ya!

Baca Juga:

5 Puisi Santri Untuk Kyai (Doa, Kerinduan, & Permintaan Maaf)

Tinggalkan komentar